Mendadak

Bukankah langit bumi seisinya diciptakan dengan penuh perencanaan? Termasuk kita manusia?

Lihatlah betapa matahari dibuat sedemikan rupa sehingga ia terbit pada pagi hari dan tenggelam saat malam datang. Teratur dan sempurna.

Lalu kenapa kita yang notabene bukan Pencipta selalu membuat banyak hal menjadi serba mendadak? Yang ujung-ujungnya membuahkan hasil yang kurang baik?

Memang ada satu dua hal di hidup kita yang terjadi secara mendadak, seperti bencana dan kematian. Namun bukankah hal itu sebenarnya bukan sebuah pertunjukkan dadakan tapi hanya bagian dari rencana besar di hidup kita?

Betapa banyak rencana dalam hidup kita yang kita buat mendadak? Hampir tidak ada hasil memuaskan saat kita melakukan hal-hal dadakan. Yang ada justru tenaga dan waktu kita terbuang sia-sia karena tak ada perencanaan yang matang.

Jadi masihkah kita menyandu pada hal-hal dadakan? Hal-hal yang bisa direncanakan tapi justru berubah setelah aji mumpung menyela?

West Jakarta, Aug 23, 2016

Advertisements

Blessing in Disguise

Hari Senin, minggu kemarin seharusnya saya berada di Kota Maumere, Sikka, NTT. Namun karena keterlambatan pesawat dari Jakarta, saya dan seorang rekan saya terlambat mengejar pesawat transit dari Denpasar ke Maumere.

Kami tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Kami kemudian mengadu ke perwakilan maskapai pesawat yang membawa kami dari Jakarta ke Denpasar. Beruntung maskapai ini merespon dengan baik aduan kami. Meski tidak mendapat tiket pengganti, namun mereka menawarkan akomodasi dan konsumsi untuk kami karena tiket ke Maumere hari itu tidak tersedia. Tentu setelah melakukan diskusi yang sedikit panjang.

Semua jadwal yang sudah direncanakan berubah seketika. Ada sedikit rasa kesal karena kejadian ini. Namun di balik itu semua, kami terutama saya memilih untuk bersyukur karena kami bisa tinggal sehari di Bali. Tak tanggung-tanggung, maskapai yang bersangkutan menginapkan kami di sebuah hotel berbintang di kawasan Pantai Sanur. Sebuah liburan sehari mendadak yang menyenangkan!

Blessing in disguise, begitulah istilah yang tepat untuk kejadian yang kami alami minggu kemarin. Bagi saya, ini hanyalah satu dari banyak kejadian serupa yang saya dapat di kehidupan saya.

Dalam hidup ini, pengalaman yang kita anggap buruk bisa berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan dan berharga. Tergantung dari perspektif mana kita mau memandang, bersyukur atau menggerutu.

Bersyukur tentu akan mendatangkan blessing tapi menggerutu tidak akan membawa hal-hal positif bagi diri kita.

Sebuah perahu di Pantai Sanur, 10 Mei 2016

Bicara Musik di Jakarta

Selama hampir empat tahun saya tinggal di Jakarta, kota bising dengan segala keriuhan dan kekacauan, saya hanya menemukan sejumlah tempat dimana saya bisa mendengar orang berbicara tentang musik.

Memang jarang pada dekade terakhir ini bisa menemukan sekumpulan orang dengan antusiasme meledak-ledak hanya untuk bicara musik. Berjumpa dengan orang-orang seperti mereka tentu menimbulkan kesan tersendiri bagi saya. Kesan seperti berada dalam ‘rumah’ di mana saya tidak asing dengan segala aroma pembicaraan tersebut.

Dua tempat terbaik di mana saya menemukan orang-orang bicara soal musik:

1. Alter Bridge concert, MEIS Ancol, 8 Maret 2014

MEIS Ancol memang tinggal kenangan. Bisa jadi Alter Bridge adalah band hard rock terakhir yang tampil di situ. Namun demikian, kenangan tentang euphoria konser itu tak akan pernah saya lupakan. Sebabnya, saat menunggu pintu dibuka, saya mengantre dengan fans Alter Bridge yang sangat bersemangat membahas musik dan musisi dalam sebuah diskusi kecil. Saya pun terlibat dalam diskusi singkat itu. Cukup menyenangkan bisa berbicara dengan mereka yang memiliki selera musik anti-mainstream. Tidak sekedar mengonsumsi hasil dari industri musik, tapi juga mempelajari dan menelaah arti musik itu sendiri.

Dan pada akhirnya kami sepakat dalam sebuah kesimpulan bahwa selera musik kami tidak bisa ditawar oleh penjaja industri musik masa kini.

2. Blok M Square, 26 Maret 2016

Bukan sekali ini saya mengunjungi pusat perbelanjaan di selatan Jakarta tersebut. Saya sering datang ke sini, tepatnya lantai bawah, untuk meneliti puluhan lapak buku. Kalau-kalau ada buku sastra lama (bekas) yang dijual dengan harga murah, siapa tahu bisa membelinya.

Selain buku, tempat yang kini menjadi sentra perdagangan batu akik area Jakarta Selatan ini juga terkenal sebagi lokasi penjualan kaset, CD, dan vinyl tua. Saya senang berada di tengah kios kaset, CD, dan vinyl tua karena selain mendengar ‘lagu kebangsaan’ dari masing-masing kios yang tentunya bebas dari pengaruh pop dan dangdut, saya bisa menjumpai banyak sekali orang yang ‘terpegaruh’ oleh musik yang diilhaminya.

Pria wanita muda dengan kostum kaos band begitu bersemangat berbicara soal musik, musisi (yang anti-mainstream) hingga ideologi di balik musik. Sungguh, bila berada di tengah mereka, saya merasa sedang mengikuti kuliah yang menyenangkan. Mungkin karena berlokasi dekat dengan Bulungan (pusat komunitas pengagum dan pecinta musik metal di Jakarta), musik berbau metal tercium kuat dari setiap pembicaraan mereka.

Meski saya pernah mengunjungi tempat lain yang menawarkan nuanasa penuh musik, namun dua tempat di atas menjadi istimewa bagi saya. Kenapa? Karena ternyata musik bukan sesuatu yang bisa dikontrol industri, musik adalah bentuk perwujudan ideologi dengan perasaan.

Setengah Hari di Weekuri

Cantik!!!

Saya ingin berteriak saat pertama kali mengintip pesona Weekuri dari ujung jalan kecil Kecamatan Kodi, bukan karena terjatuh dari motor atau tergelincir di jalan setapak namun karena takjub dengan sebuah karya luar biasa Sang Pencipta.

Weekuri adalah sebuah danau laguna di selatan Kabupaten Sumba Barat Daya yang akan memikat mata siapa saja yang menengoknya. Warna biru laut, biru bening, hijau kristal, dan putih bercampur menjadi satu di laguna ini. Karang kokoh dan tinggi di selatan menjadi pembatas laguna dan laut, pelindung tenangnya air laguna dari deburan ombak Samudera Hindia di bagian selatan yang dahsyat.

IMG_5425

Dikelilingi karang-karang tajam, laguna yang menyerupai kolam renang ini memang menggoda siapa saja untuk berendam di sana. Sayangnya saat mengunjungi Weekuri, saya tidak sedang berlibur namun sedang dalam tugas kerja dengan membawa seperangkat kamera yang tentunya harus dijaga dari cipratan air. Akhirnya saya dan 2 orang teman saya hanya puas memandangi Weekuri yang indah namun lengang dari atas karang tajam di bagian selatan ditemani terik matahari tengah hari yang menyengat kulit.

Pun, saat kami mencoba turun ke bawah, kulit kaki kami rupanya tak mampu melawan tajamnya karang. Akhirnya telapak kaki kami hanya sebentar menyentuh air laut laguna cantik tersebut.

Sayangnya di balik keindahan laguna Weekuri ini, masih tersimpan cerita miris. Sepanjang jalan kecil menuju ‘surga ujung Barat’ Pulau Sumba ini akan terlihat kisah pilu masyarakat petani yang bertahan hidup di tanah tandus. Dengan menanam jagung, jambu mete dan menjala ikan, mereka bertahan di lahan yang minim air. Rumah-rumah beratap ilalang yang hampir membusuk menjadi saksi bagaimana kehidupan di sekitar pantai ini berjalan.

IMG_4976

Melihat sepinya Laguna Weekuri dan susahnya jalan yang harus ditempuh menuju surga di ujung barat ini, sepertinya pemerintah perlu menengok potensi wisata yang akan menyejahterakan penduduk sekitar jika bisa dikelola dengan baik. Semoga saja, suatu hari Weekuri tak hanya menjadi surga bagi para pengunjung namun juga penduduk di sekitarnya.

Bintaro, January 29, 2016

Life Crisis Phase

 

So, yesterday I found an interesting infographic about Life Crisis Phase that EVERYONE could experience. To find the real you, to get a real life, to understand the meaning of your existence, to achieve the best point you could reach, you might pass a phase named life crisis. This is not a kind of psychological disorder. It’s just a phase. It could happen repeatedly and the thing you need to do is CALM DOWN and keep managing your life wisely.

Which one are you now?

Phase 1 – A feeling of being trapped by your life choices. Feeling as though you are living your life on autopilot.

phase_1

Phase 2 – A rising sense of “I’ve got to get out” and the feeling that you can change your life.

phase_2

Phase 3 – Quitting the job or relationship or whatever else is making you feel trapped and embarking on a “time out” period where you try out new experiences to find out who you want to be.

phase_3.png

Phase 4 – Rebuilding your life.

phase_4
Phase 5 – Developing new commitments more attuned to your interests and aspirations.

phase_5

Short Posts

write

This year, I’ll try to frequently update my blog but not all posts are related with music review, music album, music genre, musician and everything about music. Most posts will be short and even very short like status update on some social media platforms. All short posts are compiled under ‘Short Post’ category.

Previously, I had a plan to create another blog related to my kind of formal writing. But in the end I decided to keep updating this blog until WordPress itself close my blog since this blog has been part of my life’s journey for 7 years.