Bicara Musik di Jakarta

Selama hampir empat tahun saya tinggal di Jakarta, kota bising dengan segala keriuhan dan kekacauan, saya hanya menemukan sejumlah tempat dimana saya bisa mendengar orang berbicara tentang musik.

Memang jarang pada dekade terakhir ini bisa menemukan sekumpulan orang dengan antusiasme meledak-ledak hanya untuk bicara musik. Berjumpa dengan orang-orang seperti mereka tentu menimbulkan kesan tersendiri bagi saya. Kesan seperti berada dalam ‘rumah’ di mana saya tidak asing dengan segala aroma pembicaraan tersebut.

Dua tempat terbaik di mana saya menemukan orang-orang bicara soal musik:

1. Alter Bridge concert, MEIS Ancol, 8 Maret 2014

MEIS Ancol memang tinggal kenangan. Bisa jadi Alter Bridge adalah band hard rock terakhir yang tampil di situ. Namun demikian, kenangan tentang euphoria konser itu tak akan pernah saya lupakan. Sebabnya, saat menunggu pintu dibuka, saya mengantre dengan fans Alter Bridge yang sangat bersemangat membahas musik dan musisi dalam sebuah diskusi kecil. Saya pun terlibat dalam diskusi singkat itu. Cukup menyenangkan bisa berbicara dengan mereka yang memiliki selera musik anti-mainstream. Tidak sekedar mengonsumsi hasil dari industri musik, tapi juga mempelajari dan menelaah arti musik itu sendiri.

Dan pada akhirnya kami sepakat dalam sebuah kesimpulan bahwa selera musik kami tidak bisa ditawar oleh penjaja industri musik masa kini.

2. Blok M Square, 26 Maret 2016

Bukan sekali ini saya mengunjungi pusat perbelanjaan di selatan Jakarta tersebut. Saya sering datang ke sini, tepatnya lantai bawah, untuk meneliti puluhan lapak buku. Kalau-kalau ada buku sastra lama (bekas) yang dijual dengan harga murah, siapa tahu bisa membelinya.

Selain buku, tempat yang kini menjadi sentra perdagangan batu akik area Jakarta Selatan ini juga terkenal sebagi lokasi penjualan kaset, CD, dan vinyl tua. Saya senang berada di tengah kios kaset, CD, dan vinyl tua karena selain mendengar ‘lagu kebangsaan’ dari masing-masing kios yang tentunya bebas dari pengaruh pop dan dangdut, saya bisa menjumpai banyak sekali orang yang ‘terpegaruh’ oleh musik yang diilhaminya.

Pria wanita muda dengan kostum kaos band begitu bersemangat berbicara soal musik, musisi (yang anti-mainstream) hingga ideologi di balik musik. Sungguh, bila berada di tengah mereka, saya merasa sedang mengikuti kuliah yang menyenangkan. Mungkin karena berlokasi dekat dengan Bulungan (pusat komunitas pengagum dan pecinta musik metal di Jakarta), musik berbau metal tercium kuat dari setiap pembicaraan mereka.

Meski saya pernah mengunjungi tempat lain yang menawarkan nuanasa penuh musik, namun dua tempat di atas menjadi istimewa bagi saya. Kenapa? Karena ternyata musik bukan sesuatu yang bisa dikontrol industri, musik adalah bentuk perwujudan ideologi dengan perasaan.

Advertisements

Setengah Hari di Weekuri

Cantik!!!

Saya ingin berteriak saat pertama kali mengintip pesona Weekuri dari ujung jalan kecil Kecamatan Kodi, bukan karena terjatuh dari motor atau tergelincir di jalan setapak namun karena takjub dengan sebuah karya luar biasa Sang Pencipta.

Weekuri adalah sebuah danau laguna di selatan Kabupaten Sumba Barat Daya yang akan memikat mata siapa saja yang menengoknya. Warna biru laut, biru bening, hijau kristal, dan putih bercampur menjadi satu di laguna ini. Karang kokoh dan tinggi di selatan menjadi pembatas laguna dan laut, pelindung tenangnya air laguna dari deburan ombak Samudera Hindia di bagian selatan yang dahsyat.

IMG_5425

Dikelilingi karang-karang tajam, laguna yang menyerupai kolam renang ini memang menggoda siapa saja untuk berendam di sana. Sayangnya saat mengunjungi Weekuri, saya tidak sedang berlibur namun sedang dalam tugas kerja dengan membawa seperangkat kamera yang tentunya harus dijaga dari cipratan air. Akhirnya saya dan 2 orang teman saya hanya puas memandangi Weekuri yang indah namun lengang dari atas karang tajam di bagian selatan ditemani terik matahari tengah hari yang menyengat kulit.

Pun, saat kami mencoba turun ke bawah, kulit kaki kami rupanya tak mampu melawan tajamnya karang. Akhirnya telapak kaki kami hanya sebentar menyentuh air laut laguna cantik tersebut.

Sayangnya di balik keindahan laguna Weekuri ini, masih tersimpan cerita miris. Sepanjang jalan kecil menuju ‘surga ujung Barat’ Pulau Sumba ini akan terlihat kisah pilu masyarakat petani yang bertahan hidup di tanah tandus. Dengan menanam jagung, jambu mete dan menjala ikan, mereka bertahan di lahan yang minim air. Rumah-rumah beratap ilalang yang hampir membusuk menjadi saksi bagaimana kehidupan di sekitar pantai ini berjalan.

IMG_4976

Melihat sepinya Laguna Weekuri dan susahnya jalan yang harus ditempuh menuju surga di ujung barat ini, sepertinya pemerintah perlu menengok potensi wisata yang akan menyejahterakan penduduk sekitar jika bisa dikelola dengan baik. Semoga saja, suatu hari Weekuri tak hanya menjadi surga bagi para pengunjung namun juga penduduk di sekitarnya.

Bintaro, January 29, 2016

Life Crisis Phase

 

So, yesterday I found an interesting infographic about Life Crisis Phase that EVERYONE could experience. To find the real you, to get a real life, to understand the meaning of your existence, to achieve the best point you could reach, you might pass a phase named life crisis. This is not a kind of psychological disorder. It’s just a phase. It could happen repeatedly and the thing you need to do is CALM DOWN and keep managing your life wisely.

Which one are you now?

Phase 1 – A feeling of being trapped by your life choices. Feeling as though you are living your life on autopilot.

phase_1

Phase 2 – A rising sense of “I’ve got to get out” and the feeling that you can change your life.

phase_2

Phase 3 – Quitting the job or relationship or whatever else is making you feel trapped and embarking on a “time out” period where you try out new experiences to find out who you want to be.

phase_3.png

Phase 4 – Rebuilding your life.

phase_4
Phase 5 – Developing new commitments more attuned to your interests and aspirations.

phase_5

Short Posts

write

This year, I’ll try to frequently update my blog but not all posts are related with music review, music album, music genre, musician and everything about music. Most posts will be short and even very short like status update on some social media platforms. All short posts are compiled under ‘Short Post’ category.

Previously, I had a plan to create another blog related to my kind of formal writing. But in the end I decided to keep updating this blog until WordPress itself close my blog since this blog has been part of my life’s journey for 7 years.

Note to Self

reflection

Sore itu menjelang senja, saya berdiri di tepian jendela, memandangi langit yang menaungi kompleks rumah kecil orangtua saya di timur Kota Solo. Bising suara terompet dan kembang api bersahutan, menandai sebuah perayaan besar: Tahun Baru. Tepat 15 tahun lalu. Gaung ‘Milenium’ bergema hampir di seluruh penjuru bumi. Semua orang terkesima karena sekali dalam sisa hidup kami bisa menyaksikan sebuah millennia baru.

Namun itu adalah sebuah sore, 15 tahun lalu. Sebuah sore dimana saya tidak bisa menebak bagaimana kisah hidup saya pada tahun-tahun berikutnya. Dan, tak pernah merasakan penyesalan akan langkah-langkah yang selanjutnya saya ambil dengan cara ceroboh. Sebuah sore dimana saya tidak bisa merasakan perasaan yang saya rasakan saat saya mengetik barisan posting di awal tahun 2016 ini.

Bagi saya awal tahun adalah sesuatu yang istimewa karena kalender kembali berputar dan Januari, si bulan awal mulai mengambil urutannya, menyapa mereka yang berulangtahun dan memberinya tambahan umur. Awal tahun juga merupakan waktu yang tepat bagi saya untuk kembali berefleksi dan berencana.

Tahun 2016 adalah kesempatan untuk kembali mengingat tentang perjalanan yang telah saya lewati di tahun 2015. Saya bersyukur pada Sang Empunya Waktu karena saya mendapat banyak kesempatan dan anugerah, bahkan di luar dari pemikiran saya sebagai manusia.

Saya bersyukur karena bisa bertemu banyak teman-teman baru, menjelajahi tempat-tempat asing penuh pelajaran hidup dan mendapat limpahan cinta kasih sayang dari mereka yang berhati mulia.

2016 masih tersisa 362 hari lagi. Penuh dengan tantangan, misteri, dan kejutan. Namun, 2016 akan menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan tentunya, karena saya yakin bahwa penyertaan Sang Empunya Waktu yang saya peroleh akan sama bahkan bertambah baik dibanding tahun lalu.

(Self reminder, West Jakarta, 04 January, 2016)

Kisah dari Habema, Danau Tertinggi di Indonesia

Dalam beberapa post terakhir, saya akan menyorot lebih banyak tentang pekerjaan saya yang sebagian besar berhubungan dengan travelling. Banyak orang berkomentar bahwa pekerjaan ini menyenangkan karena saya mendapat kesempatan untuk ‘berkeliling’ Indonesia. Saya mengiyakan saja karena faktanya memang saya memiliki kesempatan langka untuk mengunjungi tempat-tempat eksotis di Indonesia. Salah satunya adalah danau tertinggi di Indonesia, Danau Habema yang terletak di Wamena, Papua dengan ketinggilan 3.225 mdpl.

Papua, di balik segala masalah yang menyelimuti Bumi Cenderawasih, pulau besar ini menyimpan banyak sekali keindahan dan misteri alam yang belum terpecahkan. Salah satunya adalah danau kuno Habema. Mengunjungi danau ini adalah kesempatan langka yang mungkin hanya saya dapat sekali seumur hidup saya. Butuh waktu sekitar dua jam dari kota kecil Wamena untuk mencapai lokasi danau. Karena letaknya berada di tengah pegunungan, saya dan rombongan harus melewati jalanan yang berliku mengitari sisi pegunungan. Duduk di tepian mobil Strada selama perjalanan pulang pergi menambah serunya perjalanan menuju danau kuno di bawah kaki Gunung Nduga. Sayang, karena dengan posisi duduk seperti ini, saya tidak bisa mengabadikan segala pemandangan indah sepanjang jalan. Edelweis bermekaran di sepanjang jalan, kabut tebal, gunung dan bukit menghijau. Keindahan ini tak bisa dilukiskan dengan kalimat apapun.

Namun, bukan hal yang mudah untuk mencapai Danau Habema. Setelah sampai di jalan paling ujung yg mengarah ke Habema, kami harus berjalan kaki menuruni tanah berawa luas sekitar satu jam. Keberadaan rawa-rawa ini seolah membenarkan betapa besar dan tuanya Danau Habema ditambah dengan  rangkaian vegetasi unik yang baru saya lihat untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Pohon pakis kuno seperti dalam zaman dinosaurus, rumput batu, rumput putih, cemara batu, dan banyak lagi. Semua tertanam di atas tanah rawa. Belum lagi banyaknya tanaman khas Papua, Sarang Semut yg menempel pada batang pohon. Melihat tanaman ini, rasanya kami seperti berada di negeri semut. Konon, jika seseorang sampai menyentuh duri sarang semut ini, ia akan jatuh sakit dan bahkan meninggal dunia.

habema

Sampai di danau, kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. danau yang tenang, dingin, beku, dan sunyi. Jika malam, suhu di danau ini bisa berada pada titik nol derajat celcius dan di bawahnya. Sementara saat kami datang pada siang hari, suhu berada di kisaran angka sepuluh derajat. Hanya kami serombongan, satu-satunya kumpulan manusia yang berada di dekat danau tua ini. Danau ini tidak dalam, dasarnya berupa pasir dan airnya sangat dingin menusuk tulang kaki namun hal ini tidak menyurutkan niat kami untuk menginjakkan kaki ke dalam air danau sebab pengalaman ini adalah pengalaman yang benar-benar langka.

Jauh di sisi belakang danau terlihat sederet gunung batu tinggi yang menjulang gagah. Salah satunya adalah Puncak Trikora. Sayangnya cuaca yang sedikit mendung kala itu menyulitkan kami untuk melihat salju gunung dengan mata telanjang. Meski banyak sumber mengatakan bahwa Danau Habema adalah tempat tinggal burung cenderawasih, tapi kami kurang beruntung karena tidak bisa melihat burung langka ini di sekitar danau.

Overall, pengalaman mengunjungi Danau Habema akan menjadi salah satu pengalaman tak terlupakan yang saya bawa dari Papua. Semoga nantinya banyak wisatawan dari dan luar Papua bisa mengunjungi danau langka ini.