Sebuah Identitas Kesukuan

Salah satu hal yang membentuk diri kita dalam persepsi orang lain adalah identitas: apa jenis kelamin kita, seperti apa bentuk fisik kita, apa ras kita, apa kepercayaan kita dan lain sebagainya. Pertanyaan tentang identitas akan selalu muncul dalam urusan-urusan penting seperti masuk ke sekolah baru, melamar kerja, masuk ke pekerjaan baru, dan juga: menikah.

Bagi saya identitas selalu muncul sebagai pertanyaan besar terutama menyangkut ‘kesukuan’ yang saya miliki. Saya lahir dari Ayah seorang Batak dan Ibu seorang Jawa (yang akhirnya juga mendapat marga Batak karena ketentuan adat). Saya sendiri telah menghabiskan 23 tahun di Solo, Jawa Tengah dan sehari-hari lekat dengan budaya Jawa mulai dari bahasa hingga kebiasaan yang sangat ‘Njawani’. Namun ternyata ini menjadi masalah tersendiri ketika saya pindah ke kota lain dan sampai akhirnya mempersiapkan pernikahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa saya adalah seorang Boru Batak yang memiliki marga. Ada identitas ‘kesukuan’ yang lebih paten dengan adanya marga tersebut. Walaupun saya sama sekali tidak mengerti bahasa dan budaya Batak, namun saya adalah seorang Boru Batak yang nantinya akan menikah juga dengan prosesi adat Batak.

Tidak jarang orang bertanya-tanya tentang bagaimana saya bisa kehilangan adat dan identitas saya sebagai seorang Boru, padahal nyatanya sedari kecil saya sangat tidak familiar dengan adat yang digariskan dari Ayah saya tersebut. Sempat menolak dengan identitas ‘kesukuan’ tersebut, saya akhirnya mahfum bahwa mau tidak mau, saya memang Boru Batak. Identitas inilah yang akan mengikuti setiap fase kehidupan saya selanjutnya terutama bagaimana saya harus mempersiapkan pernikahan dengan seorang bermarga Batak lainnya.

Satu hal yang terlintas dalam diri saya saat melihat adat Batak dari luar: ribet, bertele-tele, dan lugas. Jika saya bisa kembali membandingkan, maka jelas adat Jawa dari segala sisi memang lebih ramah serta mudah dipahami. Namun tidak adil jika terlalu menghakimi secara sepihak karena faktanya kekeluargaan dalam adat Batak justru lebih kental dan toleran apalagi ketika mempersiapkan upacara-upacara besar.

Dari pemahaman ini, akhirnya saya mulai mengombinasikan dua ‘darah’ yang diwariskan dari orangtua saya, bagaimana saya harus tetap ‘Njawani’, hati-hati dan sopan namun saya harus siap berlaku sebagai seorang Boru Batak yang berani, teguh, dan pantang menyerah.

Dan akhirnya, kita semua harus sepakat bahwa tidak ada adat, budaya, atau identitas yang lebih baik dibandingkan yang lainnya karena dari Jawa dan Batak saya belajar bahwa semua mengajarkan kebaikan dan kebenaran yang mungkin tidak sama dalam persepsi setiap orang.

 

Bintaro, Tangerang Selatan

19.09 p.m.

Advertisements

01/18/2018

18 hari berlalu melangkah di permulaan tahun 2018. Tentu sudah separuh jalan menapaki bulan Januari yang selalu konstan datang setiap pergantian tahun. Bukan sebuah kewajiban juga bagi setiap orang untuk menulis resolusi. Namun ketika saya melihat ke belakang, saya mungkin termasuk salah seorang yang secara statis menulis sebersit harapan untuk tahun yang baru lewat ‘blog post’ meski akhirnya tidak ada dampak signifikan yang mendorong saya untuk berubah setelah menulis. Jadi pada permulaan tahun ini, saya akan melakukan hal serupa sekaligus sebagai pertanda bahwa blog ini masih diperbaharui walaupun sangat jarang selama beberapa tahun belakangan.

Tahun 2018 bagi saya mungkin akan menjadi tahun yang benar-benar mengubah fase kehidupan saya.  Saya bersyukur untuk setiap hal yang telah terjadi ketika umur saya bertambah dan pemikiran saya menjadi dewasa dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kehilangan sahabat karena latar belakang kepercayaan saya, mendapat teman baru mendapat banyak pengalaman baru, semakin mengasihi keluarga, belajar dari sebuah kesalahan serta kegagalan, mendapat jawaban atas pertanyaan terbesar dalam hidup saya, dicintai, mencintai, tertawa, sedih dan berbagai proses lainnya.

Masih ada 347 hari tersisa di depan dengan berbagai perencanaan, harapan, cita-cita, dan tujuan. Semoga semua impian dan suka cita selalu memenuhi setiap detik yang boleh berlangsung pada tahun 2018 ini.

Bintaro, Tangerang Selatan

07.15 pm

7 Foreigner’s Opinions about ‘This Country’

As a part of this country, I find that we are facing many difficulties this time. The reasons are simple: politic and negative mental attitude. We lost our identity. We lost the chance to develop our own country. Most people are too spoiled with the ‘history’ that the country gets freedom with absolute triumph and some of us taking it for granted. Most people still believe that this country is very rich in everything. Most people still believe that this country is the best country in the world but we are too greedy to be grateful with what we have.

While everybody is fighting each other to prove themselves, the foreigners from other country start to give us bad stereotype. Don’t you believe it?

I am trying to collect foreigner’s opinion about this country, the land and the home where I live in. And here is the 10 shocking foreigner’s opinions:

1.Corruption

Yes. What else should we describe about it? How many corruption cases that we found on the news today? Most of the cases are done by the governments. This is not a good rank for our country but it happens instead.

2. Insulting

Unity in Diversity is a good slogan. However, in real life, this diversity is sometimes still fragile. People are easily insulting each other due to different religion, race, skin color and social status. Even an old friendship and family relationship can be broken just by different religion and race.

3. Unhealthy Habit

In some big cities in this country, it is easy to find unhealthy habits. Everyday, we can find someone who is throwing trashes everywhere even in the road, river, and other public places.

4. Lazy

Surprisingly, some foreigners consider us as lazy people with ‘slave’ mentality.  Work ethic is not high due to corruption and people think they achieve things without working hard.

5. Arrogant

It is very sad to know this. The difference between confidence and arrogant is very thin. And the people of this country are considered as arrogant. Most of us like to condemn other country and nowadays it happens online especially when this country’s representatives join a competition or game, like we feel entitled all  the time and blame others for our lost.

6. Racist

Well, according to the data of World Value Survey, 2013, this country is listed as the most racist countries in the world. Although government and majority people deny it under the ‘Unity’ slogan, in actual life the discrimination still happens everywhere and we can not deny it.

7. Lost Identity

This country has rich historical record and cultural assets but not well cultivated instead copying and pasting other cultures seem to be more delightful. We do not notice how precious our own cultures are until another country admit it. Some of us try to be nationalist but failed since what we were doing is just blaming other countries for stealing our culture.

***

I concluded the seven points above based on this site. Then, what we should do after this? Can we just deny those opinions from foreigner by proving them wrong? There is no other way than changing our own character and attitude, from fanatic to rationalist, from negative to positive and from arrogant to humble yet confident. If not, then maybe we will get more bad opinions even worse than this.  Remember that criticism may not be agreeable, but it is necessary. It fulfills the same function as pain in the human body; it calls attention to the development of an unhealthy state of things.

 

Komentator Bayaran

Matanya awas menatap setiap huruf di layar smartphone, merujuk pada situs berita terkemuka.

Ketika susunan huruf itu membentuk sebuah nama, matanya membelalak.

“Ini dia!” 

Jemarinya bergerak cepat. Terbiasa ia mengetik kalimat.

Tanda seru.

Capslock.

Huruf membentuk kata, kata membentuk kalimat, kalimat membentuk sebuah opini singkat (terkadang panjang, terkadang tersisip kata-kata yang tak pantas tertulis), opini singkat yang berisi hujatan, amarah, dan kebencian.

Tak masalah ia dengan apa yang ia perbuat.

Semakin banyak komentar, semakin jatuh si empunya nama, semakin pundi-pundinya terisi.

Tak peduli ia dengan dampak dari barisan huruf yang ia ketik.

Apakah akan ada yang dirugikan

Entah terjadi perang

Entah akan ada yang saling bunuh

Entah… suatu hari nanti ia akan mendapat balasan atas apa yang diperbuatnya.

10 Things I Know About You

1. Super kind

2. Super friendly

3. Super funny (You could make a joke in any kind of situation)

4. A bit weird

5. Innocent

6. Frog phobia (You’d rather face a big lion than this tiny wet creature)

7. Very details, mostly on sneakers, t-shirt, Marvel heroes story, Apple devices :/

8. Take-it-easy on everything

9.  Lovable, most people easily like you

10. Again, super kind

🙂

Menghidupi Hidup

Hidup adalah kesempatan untuk berkarya. Dengan hati. Dengan kesempatan dan kemampuan dalam diri.

Hidup itu bukan hanya sekadar bertahan untuk esok hari. Bukan hanya lari mengejar waktu masuk kantor, duduk, bekerja lalu pulang dengan muka kusut karena lelah dan tuntutan yang tak pernah selesai.

Hidup bukan hanya diam acuh terhadap segala sesuatu yang dianggap umum yang pada kenyataannya justru menindas kita dan menghancurkan jiwa kita, diam-diam.

Hidup bukan hanya mengikut cara hidup orang lain. Hidup adalah bagaimana kita menghidupi makna hidup itu sendiri.

Dalam kereta Bintaro-Tanah Abang, 29 Agustus 2016

Mendadak

Bukankah langit bumi seisinya diciptakan dengan penuh perencanaan? Termasuk kita manusia?

Lihatlah betapa matahari dibuat sedemikan rupa sehingga ia terbit pada pagi hari dan tenggelam saat malam datang. Teratur dan sempurna.

Lalu kenapa kita yang notabene bukan Pencipta selalu membuat banyak hal menjadi serba mendadak? Yang ujung-ujungnya membuahkan hasil yang kurang baik?

Memang ada satu dua hal di hidup kita yang terjadi secara mendadak, seperti bencana dan kematian. Namun bukankah hal itu sebenarnya bukan sebuah pertunjukkan dadakan tapi hanya bagian dari rencana besar di hidup kita?

Betapa banyak rencana dalam hidup kita yang kita buat mendadak? Hampir tidak ada hasil memuaskan saat kita melakukan hal-hal dadakan. Yang ada justru tenaga dan waktu kita terbuang sia-sia karena tak ada perencanaan yang matang.

Jadi masihkah kita menyandu pada hal-hal dadakan? Hal-hal yang bisa direncanakan tapi justru berubah setelah aji mumpung menyela?

West Jakarta, Aug 23, 2016