7 Foreigner’s Opinions about ‘This Country’

As a part of this country, I find that we are facing many difficulties this time. The reasons are simple: politic and negative mental attitude. We lost our identity. We lost the chance to develop our own country. Most people are too spoiled with the ‘history’ that the country gets freedom with absolute triumph and some of us taking it for granted. Most people still believe that this country is very rich in everything. Most people still believe that this country is the best country in the world but we are too greedy to be grateful with what we have.

While everybody is fighting each other to prove themselves, the foreigners from other country start to give us bad stereotype. Don’t you believe it?

I am trying to collect foreigner’s opinion about this country, the land and the home where I live in. And here is the 10 shocking foreigner’s opinions:

1.Corruption

Yes. What else should we describe about it? How many corruption cases that we found on the news today? Most of the cases are done by the governments. This is not a good rank for our country but it happens instead.

2. Insulting

Unity in Diversity is a good slogan. However, in real life, this diversity is sometimes still fragile. People are easily insulting each other due to different religion, race, skin color and social status. Even an old friendship and family relationship can be broken just by different religion and race.

3. Unhealthy Habit

In some big cities in this country, it is easy to find unhealthy habits. Everyday, we can find someone who is throwing trashes everywhere even in the road, river, and other public places.

4. Lazy

Surprisingly, some foreigners consider us as lazy people with ‘slave’ mentality.  Work ethic is not high due to corruption and people think they achieve things without working hard.

5. Arrogant

It is very sad to know this. The difference between confidence and arrogant is very thin. And the people of this country are considered as arrogant. Most of us like to condemn other country and nowadays it happens online especially when this country’s representatives join a competition or game, like we feel entitled all  the time and blame others for our lost.

6. Racist

Well, according to the data of World Value Survey, 2013, this country is listed as the most racist countries in the world. Although government and majority people deny it under the ‘Unity’ slogan, in actual life the discrimination still happens everywhere and we can not deny it.

7. Lost Identity

This country has rich historical record and cultural assets but not well cultivated instead copying and pasting other cultures seem to be more delightful. We do not notice how precious our own cultures are until another country admit it. Some of us try to be nationalist but failed since what we were doing is just blaming other countries for stealing our culture.

***

I concluded the seven points above based on this site. Then, what we should do after this? Can we just deny those opinions from foreigner by proving them wrong? There is no other way than changing our own character and attitude, from fanatic to rationalist, from negative to positive and from arrogant to humble yet confident. If not, then maybe we will get more bad opinions even worse than this.  Remember that criticism may not be agreeable, but it is necessary. It fulfills the same function as pain in the human body; it calls attention to the development of an unhealthy state of things.

 

Advertisements

Komentator Bayaran

Matanya awas menatap setiap huruf di layar smartphone, merujuk pada situs berita terkemuka.

Ketika susunan huruf itu membentuk sebuah nama, matanya membelalak.

“Ini dia!” 

Jemarinya bergerak cepat. Terbiasa ia mengetik kalimat.

Tanda seru.

Capslock.

Huruf membentuk kata, kata membentuk kalimat, kalimat membentuk sebuah opini singkat (terkadang panjang, terkadang tersisip kata-kata yang tak pantas tertulis), opini singkat yang berisi hujatan, amarah, dan kebencian.

Tak masalah ia dengan apa yang ia perbuat.

Semakin banyak komentar, semakin jatuh si empunya nama, semakin pundi-pundinya terisi.

Tak peduli ia dengan dampak dari barisan huruf yang ia ketik.

Apakah akan ada yang dirugikan

Entah terjadi perang

Entah akan ada yang saling bunuh

Entah… suatu hari nanti ia akan mendapat balasan atas apa yang diperbuatnya.

10 Things I Know About You

1. Super kind

2. Super friendly

3. Super funny (You could make a joke in any kind of situation)

4. A bit weird

5. Innocent

6. Frog phobia (You’d rather face a big lion than this tiny wet creature)

7. Very details, mostly on sneakers, t-shirt, Marvel heroes story, Apple devices :/

8. Take-it-easy on everything

9.  Lovable, most people easily like you

10. Again, super kind

🙂

Menghidupi Hidup

Hidup adalah kesempatan untuk berkarya. Dengan hati. Dengan kesempatan dan kemampuan dalam diri.

Hidup itu bukan hanya sekadar bertahan untuk esok hari. Bukan hanya lari mengejar waktu masuk kantor, duduk, bekerja lalu pulang dengan muka kusut karena lelah dan tuntutan yang tak pernah selesai.

Hidup bukan hanya diam acuh terhadap segala sesuatu yang dianggap umum yang pada kenyataannya justru menindas kita dan menghancurkan jiwa kita, diam-diam.

Hidup bukan hanya mengikut cara hidup orang lain. Hidup adalah bagaimana kita menghidupi makna hidup itu sendiri.

Dalam kereta Bintaro-Tanah Abang, 29 Agustus 2016

Mendadak

Bukankah langit bumi seisinya diciptakan dengan penuh perencanaan? Termasuk kita manusia?

Lihatlah betapa matahari dibuat sedemikan rupa sehingga ia terbit pada pagi hari dan tenggelam saat malam datang. Teratur dan sempurna.

Lalu kenapa kita yang notabene bukan Pencipta selalu membuat banyak hal menjadi serba mendadak? Yang ujung-ujungnya membuahkan hasil yang kurang baik?

Memang ada satu dua hal di hidup kita yang terjadi secara mendadak, seperti bencana dan kematian. Namun bukankah hal itu sebenarnya bukan sebuah pertunjukkan dadakan tapi hanya bagian dari rencana besar di hidup kita?

Betapa banyak rencana dalam hidup kita yang kita buat mendadak? Hampir tidak ada hasil memuaskan saat kita melakukan hal-hal dadakan. Yang ada justru tenaga dan waktu kita terbuang sia-sia karena tak ada perencanaan yang matang.

Jadi masihkah kita menyandu pada hal-hal dadakan? Hal-hal yang bisa direncanakan tapi justru berubah setelah aji mumpung menyela?

West Jakarta, Aug 23, 2016

Bicara Musik di Jakarta

Selama hampir empat tahun saya tinggal di Jakarta, kota bising dengan segala keriuhan dan kekacauan, saya hanya menemukan sejumlah tempat dimana saya bisa mendengar orang berbicara tentang musik.

Memang jarang pada dekade terakhir ini bisa menemukan sekumpulan orang dengan antusiasme meledak-ledak hanya untuk bicara musik. Berjumpa dengan orang-orang seperti mereka tentu menimbulkan kesan tersendiri bagi saya. Kesan seperti berada dalam ‘rumah’ di mana saya tidak asing dengan segala aroma pembicaraan tersebut.

Dua tempat terbaik di mana saya menemukan orang-orang bicara soal musik:

1. Alter Bridge concert, MEIS Ancol, 8 Maret 2014

MEIS Ancol memang tinggal kenangan. Bisa jadi Alter Bridge adalah band hard rock terakhir yang tampil di situ. Namun demikian, kenangan tentang euphoria konser itu tak akan pernah saya lupakan. Sebabnya, saat menunggu pintu dibuka, saya mengantre dengan fans Alter Bridge yang sangat bersemangat membahas musik dan musisi dalam sebuah diskusi kecil. Saya pun terlibat dalam diskusi singkat itu. Cukup menyenangkan bisa berbicara dengan mereka yang memiliki selera musik anti-mainstream. Tidak sekedar mengonsumsi hasil dari industri musik, tapi juga mempelajari dan menelaah arti musik itu sendiri.

Dan pada akhirnya kami sepakat dalam sebuah kesimpulan bahwa selera musik kami tidak bisa ditawar oleh penjaja industri musik masa kini.

2. Blok M Square, 26 Maret 2016

Bukan sekali ini saya mengunjungi pusat perbelanjaan di selatan Jakarta tersebut. Saya sering datang ke sini, tepatnya lantai bawah, untuk meneliti puluhan lapak buku. Kalau-kalau ada buku sastra lama (bekas) yang dijual dengan harga murah, siapa tahu bisa membelinya.

Selain buku, tempat yang kini menjadi sentra perdagangan batu akik area Jakarta Selatan ini juga terkenal sebagi lokasi penjualan kaset, CD, dan vinyl tua. Saya senang berada di tengah kios kaset, CD, dan vinyl tua karena selain mendengar ‘lagu kebangsaan’ dari masing-masing kios yang tentunya bebas dari pengaruh pop dan dangdut, saya bisa menjumpai banyak sekali orang yang ‘terpegaruh’ oleh musik yang diilhaminya.

Pria wanita muda dengan kostum kaos band begitu bersemangat berbicara soal musik, musisi (yang anti-mainstream) hingga ideologi di balik musik. Sungguh, bila berada di tengah mereka, saya merasa sedang mengikuti kuliah yang menyenangkan. Mungkin karena berlokasi dekat dengan Bulungan (pusat komunitas pengagum dan pecinta musik metal di Jakarta), musik berbau metal tercium kuat dari setiap pembicaraan mereka.

Meski saya pernah mengunjungi tempat lain yang menawarkan nuanasa penuh musik, namun dua tempat di atas menjadi istimewa bagi saya. Kenapa? Karena ternyata musik bukan sesuatu yang bisa dikontrol industri, musik adalah bentuk perwujudan ideologi dengan perasaan.

Setengah Hari di Weekuri

Cantik!!!

Saya ingin berteriak saat pertama kali mengintip pesona Weekuri dari ujung jalan kecil Kecamatan Kodi, bukan karena terjatuh dari motor atau tergelincir di jalan setapak namun karena takjub dengan sebuah karya luar biasa Sang Pencipta.

Weekuri adalah sebuah danau laguna di selatan Kabupaten Sumba Barat Daya yang akan memikat mata siapa saja yang menengoknya. Warna biru laut, biru bening, hijau kristal, dan putih bercampur menjadi satu di laguna ini. Karang kokoh dan tinggi di selatan menjadi pembatas laguna dan laut, pelindung tenangnya air laguna dari deburan ombak Samudera Hindia di bagian selatan yang dahsyat.

IMG_5425

Dikelilingi karang-karang tajam, laguna yang menyerupai kolam renang ini memang menggoda siapa saja untuk berendam di sana. Sayangnya saat mengunjungi Weekuri, saya tidak sedang berlibur namun sedang dalam tugas kerja dengan membawa seperangkat kamera yang tentunya harus dijaga dari cipratan air. Akhirnya saya dan 2 orang teman saya hanya puas memandangi Weekuri yang indah namun lengang dari atas karang tajam di bagian selatan ditemani terik matahari tengah hari yang menyengat kulit.

Pun, saat kami mencoba turun ke bawah, kulit kaki kami rupanya tak mampu melawan tajamnya karang. Akhirnya telapak kaki kami hanya sebentar menyentuh air laut laguna cantik tersebut.

Sayangnya di balik keindahan laguna Weekuri ini, masih tersimpan cerita miris. Sepanjang jalan kecil menuju ‘surga ujung Barat’ Pulau Sumba ini akan terlihat kisah pilu masyarakat petani yang bertahan hidup di tanah tandus. Dengan menanam jagung, jambu mete dan menjala ikan, mereka bertahan di lahan yang minim air. Rumah-rumah beratap ilalang yang hampir membusuk menjadi saksi bagaimana kehidupan di sekitar pantai ini berjalan.

IMG_4976

Melihat sepinya Laguna Weekuri dan susahnya jalan yang harus ditempuh menuju surga di ujung barat ini, sepertinya pemerintah perlu menengok potensi wisata yang akan menyejahterakan penduduk sekitar jika bisa dikelola dengan baik. Semoga saja, suatu hari Weekuri tak hanya menjadi surga bagi para pengunjung namun juga penduduk di sekitarnya.

Bintaro, January 29, 2016