Blessing in Disguise

Hari Senin, minggu kemarin seharusnya saya berada di Kota Maumere, Sikka, NTT. Namun karena keterlambatan pesawat dari Jakarta, saya dan seorang rekan saya terlambat mengejar pesawat transit dari Denpasar ke Maumere.

Kami tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Kami kemudian mengadu ke perwakilan maskapai pesawat yang membawa kami dari Jakarta ke Denpasar. Beruntung maskapai ini merespon dengan baik aduan kami. Meski tidak mendapat tiket pengganti, namun mereka menawarkan akomodasi dan konsumsi untuk kami karena tiket ke Maumere hari itu tidak tersedia. Tentu setelah melakukan diskusi yang sedikit panjang.

Semua jadwal yang sudah direncanakan berubah seketika. Ada sedikit rasa kesal karena kejadian ini. Namun di balik itu semua, kami terutama saya memilih untuk bersyukur karena kami bisa tinggal sehari di Bali. Tak tanggung-tanggung, maskapai yang bersangkutan menginapkan kami di sebuah hotel berbintang di kawasan Pantai Sanur. Sebuah liburan sehari mendadak yang menyenangkan!

Blessing in disguise, begitulah istilah yang tepat untuk kejadian yang kami alami minggu kemarin. Bagi saya, ini hanyalah satu dari banyak kejadian serupa yang saya dapat di kehidupan saya.

Dalam hidup ini, pengalaman yang kita anggap buruk bisa berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan dan berharga. Tergantung dari perspektif mana kita mau memandang, bersyukur atau menggerutu.

Bersyukur tentu akan mendatangkan blessing tapi menggerutu tidak akan membawa hal-hal positif bagi diri kita.

Sebuah perahu di Pantai Sanur, 10 Mei 2016
Advertisements

Note to Self

reflection

Sore itu menjelang senja, saya berdiri di tepian jendela, memandangi langit yang menaungi kompleks rumah kecil orangtua saya di timur Kota Solo. Bising suara terompet dan kembang api bersahutan, menandai sebuah perayaan besar: Tahun Baru. Tepat 15 tahun lalu. Gaung ‘Milenium’ bergema hampir di seluruh penjuru bumi. Semua orang terkesima karena sekali dalam sisa hidup kami bisa menyaksikan sebuah millennia baru.

Namun itu adalah sebuah sore, 15 tahun lalu. Sebuah sore dimana saya tidak bisa menebak bagaimana kisah hidup saya pada tahun-tahun berikutnya. Dan, tak pernah merasakan penyesalan akan langkah-langkah yang selanjutnya saya ambil dengan cara ceroboh. Sebuah sore dimana saya tidak bisa merasakan perasaan yang saya rasakan saat saya mengetik barisan posting di awal tahun 2016 ini.

Bagi saya awal tahun adalah sesuatu yang istimewa karena kalender kembali berputar dan Januari, si bulan awal mulai mengambil urutannya, menyapa mereka yang berulangtahun dan memberinya tambahan umur. Awal tahun juga merupakan waktu yang tepat bagi saya untuk kembali berefleksi dan berencana.

Tahun 2016 adalah kesempatan untuk kembali mengingat tentang perjalanan yang telah saya lewati di tahun 2015. Saya bersyukur pada Sang Empunya Waktu karena saya mendapat banyak kesempatan dan anugerah, bahkan di luar dari pemikiran saya sebagai manusia.

Saya bersyukur karena bisa bertemu banyak teman-teman baru, menjelajahi tempat-tempat asing penuh pelajaran hidup dan mendapat limpahan cinta kasih sayang dari mereka yang berhati mulia.

2016 masih tersisa 362 hari lagi. Penuh dengan tantangan, misteri, dan kejutan. Namun, 2016 akan menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan tentunya, karena saya yakin bahwa penyertaan Sang Empunya Waktu yang saya peroleh akan sama bahkan bertambah baik dibanding tahun lalu.

(Self reminder, West Jakarta, 04 January, 2016)

Kisah dari Habema, Danau Tertinggi di Indonesia

Dalam beberapa post terakhir, saya akan menyorot lebih banyak tentang pekerjaan saya yang sebagian besar berhubungan dengan travelling. Banyak orang berkomentar bahwa pekerjaan ini menyenangkan karena saya mendapat kesempatan untuk ‘berkeliling’ Indonesia. Saya mengiyakan saja karena faktanya memang saya memiliki kesempatan langka untuk mengunjungi tempat-tempat eksotis di Indonesia. Salah satunya adalah danau tertinggi di Indonesia, Danau Habema yang terletak di Wamena, Papua dengan ketinggilan 3.225 mdpl.

Papua, di balik segala masalah yang menyelimuti Bumi Cenderawasih, pulau besar ini menyimpan banyak sekali keindahan dan misteri alam yang belum terpecahkan. Salah satunya adalah danau kuno Habema. Mengunjungi danau ini adalah kesempatan langka yang mungkin hanya saya dapat sekali seumur hidup saya. Butuh waktu sekitar dua jam dari kota kecil Wamena untuk mencapai lokasi danau. Karena letaknya berada di tengah pegunungan, saya dan rombongan harus melewati jalanan yang berliku mengitari sisi pegunungan. Duduk di tepian mobil Strada selama perjalanan pulang pergi menambah serunya perjalanan menuju danau kuno di bawah kaki Gunung Nduga. Sayang, karena dengan posisi duduk seperti ini, saya tidak bisa mengabadikan segala pemandangan indah sepanjang jalan. Edelweis bermekaran di sepanjang jalan, kabut tebal, gunung dan bukit menghijau. Keindahan ini tak bisa dilukiskan dengan kalimat apapun.

Namun, bukan hal yang mudah untuk mencapai Danau Habema. Setelah sampai di jalan paling ujung yg mengarah ke Habema, kami harus berjalan kaki menuruni tanah berawa luas sekitar satu jam. Keberadaan rawa-rawa ini seolah membenarkan betapa besar dan tuanya Danau Habema ditambah dengan  rangkaian vegetasi unik yang baru saya lihat untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Pohon pakis kuno seperti dalam zaman dinosaurus, rumput batu, rumput putih, cemara batu, dan banyak lagi. Semua tertanam di atas tanah rawa. Belum lagi banyaknya tanaman khas Papua, Sarang Semut yg menempel pada batang pohon. Melihat tanaman ini, rasanya kami seperti berada di negeri semut. Konon, jika seseorang sampai menyentuh duri sarang semut ini, ia akan jatuh sakit dan bahkan meninggal dunia.

habema

Sampai di danau, kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. danau yang tenang, dingin, beku, dan sunyi. Jika malam, suhu di danau ini bisa berada pada titik nol derajat celcius dan di bawahnya. Sementara saat kami datang pada siang hari, suhu berada di kisaran angka sepuluh derajat. Hanya kami serombongan, satu-satunya kumpulan manusia yang berada di dekat danau tua ini. Danau ini tidak dalam, dasarnya berupa pasir dan airnya sangat dingin menusuk tulang kaki namun hal ini tidak menyurutkan niat kami untuk menginjakkan kaki ke dalam air danau sebab pengalaman ini adalah pengalaman yang benar-benar langka.

Jauh di sisi belakang danau terlihat sederet gunung batu tinggi yang menjulang gagah. Salah satunya adalah Puncak Trikora. Sayangnya cuaca yang sedikit mendung kala itu menyulitkan kami untuk melihat salju gunung dengan mata telanjang. Meski banyak sumber mengatakan bahwa Danau Habema adalah tempat tinggal burung cenderawasih, tapi kami kurang beruntung karena tidak bisa melihat burung langka ini di sekitar danau.

Overall, pengalaman mengunjungi Danau Habema akan menjadi salah satu pengalaman tak terlupakan yang saya bawa dari Papua. Semoga nantinya banyak wisatawan dari dan luar Papua bisa mengunjungi danau langka ini.

2-0-1-4

Tak terasa sudah 2014, dan Januari pun sudah hampir berakhir! Wah!
Terkadang memang waktu terasa sangat berharga saat kita membutuhkannya. Jika menengok ke belakang, ternyata masa remaja saya sudah berlalu sejak… (hitung jari di tangan kanan)… beberapa tahun yang lalu. Masa remaja yang saya lalui secara datar saja. Kini saya berkepala dua dan harus siap dengan berbagai tanggung jawab yang tidak pernah saya duga saat saya masih sekolah dan kuliah dulu.

Tahun-tahun kemarin saya menapaki hari dengan prinsip “time killer”: lakukan apa saja yang bisa menghabiskan waktumu, jalani apa saja yang ada, dan let it flow. Akibatnya, tentu saja di akhir tahun saya merasa telah menghabiskan waktu saya secara sia-sia dan penyesalan kembali terulang.

Di awal tahun 2014 ini, saya mulai mengerti bahwa setiap detik kehidupan adalah kesempatan baru yang memiliki dua pilihan yang sulit: menikmatinya atau memanfaatkannya.

Dan saya akan memilih untuk memanfaatkannya.

Memang di tahun 2013 kemarin, saya merasa bahwa salah satu pencapaian besar yang saya tunggu selama bertahun-tahun telah terwujud. Namun sepertinya saya terlalu cepat mengambil kesimpulan, seakan-akan saya tidak memiliki tahun-tahun berikutnya untuk ditapaki.

Tahun 2014 ini saya masih terjebak di kota yang sama. Saya bertahan di kota kacau ini dengan sebuah alasan absurd yang tak akan pernah digubris orang lain kecuali saya sendiri.

2014

Jika di tahun-tahun sebelumnya saya memilih untuk menikmati waktu, sekarang saya ingin memanfaatkan setiap detik waktu saya untuk tahun-tahun berikutnya, karena saya yakin, saya masih punya masa depan yang harus saya bangun dari sekarang (meski sedikit terlambat).

Tahun ini juga, saya ingin lebih berkarya serta berguna bagi orang lain. Ada pepatah lama yang intinya mengatakan bahwa jika kamu ingin merasa lebih berbahagia maka kamu harus membuat orang lain bahagia. Dan saya sangat ingin melakukannya, mulai dari sekarang.

West Jakarta, January 18, 2014.

Life’s Turning Point

Dari sekian banyak biografi tentang orang-orang besar, penemu, dan inspirator, ada sebuah kesamaan yang bisa saya ditemukan: life’s turning point.

Menurut saya pribadi, turning point adalah sebuah titik balik dalam hidup dimana kita akhirnya memandang segala sesuatu dari arah yang berbeda. Titik dimana kita juga memulai sebuah perubahan besar di luar kapasitas kita.

Misalnya saja Paulo Coelho, penulis besar favorit saya, melewati berbagai permasalahan berat di dalam hidupnya sampai akhirnya ia menemukan turning point di dalam hidupnya, tepat ketika ia berjalan di sebuah kawasan barat daya Spanyol pada taun 1986.

Di jalanan yang sepi itu, ia mulai memikirkan segala sesuatu yang telah terjadi di hidupnya, dan ia mulai mendapatkan inspirasi besar untuk menulis. Pengalamannya itu ia ceritakan dalam bukunya yang berjudul, The Pilgrimage.

Life's Turning Point
Life’s Turning Point

Sebenarnya tidak hanya mereka saja yang memiliki turning point, orang awam pun memiliki poin yang sama di dalam hidup. Kapan dan dimana turning point itu akan terjadi, Anda sendiri yang memutuskan.

Saat Anda berada di stage paling membosankan dalam hidup misalnya, Anda bisa memutuskan untuk tetap tinggal di posisi yang sama atau melompat keluar untuk Anda akan lebih berwarna.

Saat Anda selalu merasa gagal, Anda bisa memilih untuk terus menjadi pecundang atau mulai mencari cara baru untuk menang di kesempatan berikutnya.

Saat Anda sakit hati dan merasa terus dimanfaatkan, Anda bisa tetap tinggal untuk terus meratapi nasib Anda atau memulai untuk melawan rasa sakit hati Anda dan membuatnya menjadi pelajaran berharga.

Saat Anda tidak pernah mendapatkan apa yang Anda inginkan, Anda bisa tetap terus menerima kenyataan pahit itu atau berusaha lebih keras agar keinginan Anda segera terwujud.

Ada dua pilihan di dalam hidup, maju terus dan menang atau berhenti dan kalah. Ada sebuah ‘turning point’ dalam kehidupan kita, tinggal kita sendiri yang menentukan langkah selanjutnya.

West Jakarta, December 08, 2013

02.46 a.m.

2012, Belajar dari Sebuah Kekacauan

Ada sebuah pepatah populer yang cukup mengena bagi saya pribadi, to be old and wise, you must first be young and stupid -untuk menjadi tua dan bijaksana, Anda harus menjadi muda dan bodoh terlebih dahulu-.

Entah bagaimana orang lain menginterpretasikan pepatah ini namun bagi saya, untaian kata ini seakan menyindir segala kesia-siaan yang telah saya buat. Mungkin saat ini saya sedang melewati tahap muda dan bodoh. Tahap dimana saya hanya membuang waktu, mengabaikan segala kesempatan, mengambil keputusan tanpa berpikir panjang, dan mudah terbawa arus. Setidaknya itu yang saya dapat di tahun 2012 kemarin.

Di akhir tahun 2011 lalu saya sangat berharap dapat memanfaatkan tahun 2012 dengan baik. Resolusi besar sudah saya siapkan dengan harapan agar saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik di tahun 2012. Namun nyatanya, rencana dan angan-angan tersebut tidak sejalan dengan realita yang ada.

Realita yang mungkin saja bisa diubah jika saya tidak banyak menunda waktu dan membuang kesempatan.

Jika ditinjau kembali satu-persatu, telah ada banyak kebodohan yang saya perbuat. Mulai dari menyia-nyiakan waktu dan tidak berpikir lebih jauh saat mengambil keputusan atau bahkan saya terlalu lama memikirkan dampak buruk dari peristiwa yang belum terjadi sehingga segala kesempatan baik berlalu begitu saja.

Menyesal? Tentu saja iya, penyesalan selalu datang terlambat ketika semua sudah berakhir. Dan penyesalan itulah yang selalu mematok titik ukur dimana semuanya harus dimulai dari titik awal.

Setidaknya itulah yang saya akan lakukan di tahun 2013 ini.

Saya tidak ingin terus menerus menjadi ‘young and stupid’. Umur saya baru dua puluh tiga tahun, namun saya yakin setiap detik kehidupan yang saya tapaki akan membawa pengaruh kelak, saat saya menjadi tua dan tidak lagi bisa berbuat banyak.

Saya ingin memulai dari awal. Menata mimpi saya. Memanfaatkan waktu dan kesempatan. Bijak mengelola waktu dan kesempatan. Serta menapaki hari dengan lebih cermat.

Semuanya akan saya mulai lagi dari awal tahun ini, 2013. It’s gonna be my year!

Jakarta, 7 Januari 2013, 03.03 a.m

How are You Kindergarten Cuties?

Salah satu memori yang membuat saya takjub akan diri saya sendiri adalah menjadi seorang guru TK. Saya pernah menjadi seorang guru TK A dan B pada tahun 2010-2012 saat saya masih menyelesaikan skripsi. Jika mengingat kembali memori itu, saya bisa tertawa lepas. Why could I do that job?

Tidak ada yang pernah menyangka, saya pernah mengajar anak-anak berusia empat sampai enam tahun itu selama dua tahun. Penampilan saya jauh dari kesan lembut ala guru TK. Saya sempat ditertawakan oleh teman dan keluarga saya waktu itu 🙂

Awalnya saya menolak, namun karena desakan seorang teman Ibu dengan alasan “sukarela”, akhirnya saya mau memenuhi tawaran mengajar Bahasa Inggris sekali seminggu selama satu jam di TK.

Di sana, saya bertemu dengan belasan anak-anak berwajah lucu, cerewet, dan hiperaktif! Jika bukan karena saya punya dua orang adik kembar yang masih seusia mereka, mungkin saya akan takut terhadap kerumunan anak-anak itu. Mereka terlalu polos. Saking polosnya mereka hingga malah terkesan menyeramkan.

Tahun 2010 setelah Lebaran usai adalah periode pertama saya mengajar anak-anak TK. Pertama, tentu saja saya grogi. Pengalaman sebagai seorang guru privat sama sekali tidak membantu saya dalam menghadapi anak-anak bertubuh ‘kurcaci’ itu.

Bayangkan saja, saya yang biasanya menghadapi seorang anak SMA kelas 12 tiba-tiba dihadapkan dengan puluhan anak kecil yang mungkin saja tidak dapat mencerna materi yang saya sampaikan dengan sekali tangkap.

Bahkan di hari-hari awal saya mengajar, saya merasa bak seorang badut. Jika saya tidak membuat lelucon, mereka pasti hanya menatap kosong pada saya, acuh, atau bahkan menangis.

Duh! Perlu sekitar satu bulan untuk meyakinkan anak-anak itu bahwa saya bukan seorang monster atau penjahat. Saya bahkan tidak suka menggertak kok 🙂

Sebenarnya selama dua tahun itu saya agak malas mengajar mereka, bukan karena status “sukarelawan” yang diberikan pihak sekolah, tapi karena memang saya tidak pernah memiliki jiwa seorang guru. Saya hanya seorang mahasiswi Sastra dan tidak pernah belajar bagaimana cara menjadi seorang guru yang baik, cara mengajar yang efisien, dan memilah materi pelajaran.

Karena kewajiban mengajar itu, saya sempat phobia dengan hari Jumat. Hari dimana saya harus membuat materi pelajaran baru, mencari lagu-lagu yang biasa dinyanyikan anak TK, membuat tarian, dan buru-buru ngebut ke sekolah.

Sama sekali tidak ada persiapan karena menurut Kepala Sekolah TK tempat saya mengajar dulu, saya boleh memberi materi apapun, jadi saya memilih materi sesuka saya. Kadang, sepuluh menit sebelum mengajar, saya baru mendapatkan materi pelajaran TK A dan B.

Walaupun sempat setengah hati saat mengajar, anak-anak itu tetap antusias menyambut saya. Wah! Saat melihat senyum mereka mengembang, mata berbinar, dan antusias memancar saat melihat saya, saya sangat menyesal karena ketidaksiapan saya saat mengajar.

“Miss Renaaaaa….!” teriak mereka kala itu sambil berebutan menyalami dan mencium tangan saya.

Bagi saya pribadi, mungkin inilah letak kebanggaan menjadi seorang guru TK. Anak-anak itu walau masih belum menangkap pelajaran secara sempurna namun mau berusaha memperhatikan apa yang saya ucapkan dan tulis di papan tulis.

Naomira, Justin, Ofel, Dinda, Ari, Bayu, dan Joshua adalah sekian nama dari puluhan anak TK yang pernah saya ajar. Mereka sangat aktif dan cerdas. Antusiasme mereka bisa saya lihat dari rona wajah dan tatapan mata mereka. Sungguh menyenangkan melihat anak-anak itu mencerna apa yang saya ajarkan lewat logika sederhana mereka. Mereka berharap banyak dari saya, namun saya tidak bisa memberi yang mereka minta karena kapasitas saya.

Anak-anak itu punya masa depan yang cerah. Semangat serta keingintahuan mereka meluap-luap. Merekalah yang membawa saya bertahan selama dua tahun mengajar secara sukarela di sekolah kecil itu.

Namun akhirnya, karena banyak pertimbangan dan status saya yang telah lulus kuliah, saya memutuskan berhenti pada bulan Mei tahun 2012 ini. Ada perasaan lega namun di sisi lain saya rindu mengajar dan bertemu dengan anak-anak polos itu.

Semoga saja, suatu hari ketika saya pulang, saya masih sempat bertemu mereka.

11.35 PM

West Jakarta, December 16, 2012.