Opinion

Cerita Lima Tahun di Jakarta

Saya tidak terbiasa menulis opini apalagi jika berhubungan dengan politik. Saya hanya ingin menulis apa yang saya lihat dan saksikan setelah lima tahun tinggal di Ibukota Jakarta.

Tahun 2017 di Indonesia dibuka dengan kegaduhan politik. Akarnya adalah masalah Pilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta yang diikuti oleh tiga pasangan calon. Salah satu calon pasangan adalah petahana yang sangat anti-mainstream dan kontroversial yakni Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Syaiful Hidayat. Entah bagaimana, Pilgub yang seharusnya berjalan normal dan baik tiba-tiba menjadi kisruh, panas, dan menjadi urusan satu negara bukan hanya urusan warga Jakarta.

Selama empat bulan kampanye, isu-isu sensitif seperti agama dan ras menjadi sebuah bumbu pedas perdebatan para pendukung calon. Di luar nalar, isu ini merebak sampai ke pelosok Nusantara. Saat saya kebetulan berkunjung ke sebuah daerah di pedalaman Pulau Sumatera, isu ini bahkan menjadi topik pembicaraan hangat di warung-warung kopi dan sebagainya. Ketika saya membuka akun-akun media sosial saya, teman-teman saya dari berbagai belahan Indonesia membahas isu ini sebagai masalah darurat, masalah keamanan negara, masalah akhlak!

Awalnya saya hanya menjadi silent reader. Masa bodoh dengan apa yang mereka bicarakan, toh mereka bukan warga Jakarta, tidak pernah tinggal di Jakarta, dan parahnya lagi tidak pernah berkunjung ke Jakarta. Namun lama-lama, saya menjadi gerah dan puncaknya ketika melihat teman-teman kuliah saya dulu di kota seberang mulai berdebat dan menyinggung soal ini. Wake up people! Ini adalah murni urusan politik dengan bumbu-bumbu isu sensitif yang bisa memecah belah persatuan dan pertemanan.

Banjir Jakarta

Oke, saya mulai. Saya pertama kali tinggal di Jakarta tahun 2012, tahun Bapak Joko Widodo yang dulu adalah walikota tempat keluarga besar saya tinggal, menjadi calon Gubernur dan kemudian Gubernur DKI Jakarta. Apa yang saya rasakan? Apa yang saya lihat? Sebagai catatan, saya tinggal di Jakarta Barat bagian ujung utara, dekat dengan Bandara Internasional Soekarno Hatta dan rentan dengan banjir. Tiga bulan saya berada di tempat ini, saya ingin pulang. Saya rasa semua teman-teman saya dari kota seberang belum pernah merasakan bagaimana banjir akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013 menggenangi hampir seluruh kota Jakarta.

Bagaimana dengan tempat saya? Sudah pasti tenggelam!

Saya masih ingat bagaimana saya marah-marah dan mengutuki kota ini ketika terjebak macet puluhan kilometer dan terhadang banjir setinggi lutut. Karena tuntutan kerja, saya harus bangun pagi-pagi buta menembus macet dan berjalan melintasi banjir dengan air keruh setinggi paha sambil was-was apakah hujan akan turun saat saya berjelan seperti itu. Total, perjuangan ini memakan waktu dua jam. Tidak hanya berhenti di situ, saat pulang saya harus melakukan hal yang sama. Parahnya ‘kenyamanan’ ini tidak berlangsung lama. Jalan normal hanya sepanjang ratusan meter saja. Selebihnya, saya harus turun lagi, menyeberang dengan perahu karet lalu naik motor lewat jalan tol yang dibuka secara darurat. Kejadian ini berlangsung selama hampir seminggu. Saat itu, saya bersumpah ingin pulang dan meninggalkan kota ini.

Baca:

(City Review) The β€˜Damned’ One, Capital City

Namun peristiwa rutin yang membuat setiap warga Jakarta Barat bagian utara was-was tiap awal tahun itu tinggal kenangan. Dalam beberapa hari terakhir, ketika hujan deras tak pernah absen mengguyur Ibukota ternyata tidak lagi membanjiri ruas jalan dan perumahan yang saya lewati. Padahal kota-kota lain di utara Pulau Jawa nyaris tenggelam karena hujan ekstrim. Kenapa semua bisa berubah? Tentu saja karena ada  yang mau menggerakkan perubahan yakni mereka-mereka yang memimpin di level atas.

Bagaimana cara memimpin mereka? Apakah ada sebuah gebrakan? Ya tentu saja dengan gaya yang keras, berbeda, berkelas, cerdas namun tulus. Saya tidak sedang mempromosikan petahana. Tapi nyatanya, dengan gaya kepemimpinan yang dia pakai, terjadi sebuah perubahan signifikan di Ibukota.

Bus TJ Abu-abu

Dulu ketika saya hendak pergi ke bagian lain dari kota Jakarta, saya sering menggunakan Bus TransJakarta (TJ). Orang Jakarta pasti awam dengan keadaan Bus TJ koridor 3 dulu. Ya, bus abu-abu, kecil, tua, panas, berkarat, dan sering mogok di tengah jalan. Saya merasa seperti ikan pepes di dalam bus tersebut yang bau dan bocor saat turun hujan. Copet dan pelaku pelecehan seksual tentu banyak ditemukan di bus-bus seperti ini. Dulu, saya bahkan tidak bisa pulang sedikit lebih malam karena halte tutup jam 11. Sungguh, sebuah keterbatasan yang tak layak ditemukan di Ibukota Indonesia ini.

Kini, bus-bus itu telah pensiun. Jika Anda sering menggunakan bus TJ, pasti Anda paham kualitas bus Scania yang sekarang dipakai di berbagai koridor. Bus kelas internasional yang terang dan bersih serta jarang mogok. Tidak ada lagi bus-bus kecil yang tua dan rapuh seperti dulu. Kami pengguna koridor 3 juga tidak perlu lagi mengantre lama di halte Harmoni yang panas dan pengap. Bus datang dengan cepat serta berjalan dengan cepat di jalurnya karena hampir semua jalur sudah steril.

Mengapa semua bisa berubah menjadi lebih baik? Tentu tidak perlu saya tekankan bahwa ini memang hasil dari kepemimpinan yang baik di level atas.

Ada banyak lagi perubah-perubahan baik yang saya lihat dan saya rasakan terjadi di kota ini selama lima tahun saya tinggal di Jakarta. Semua menjadi baik untuk kebutuhan warga dan siapapun yang ada di kota Jakarta.

Kita Mau Ikut Campur!

Sayangnya tidak banyak orang yang suka dengan sistem bersih, transparan, dan profesional seperti ini. Semua upaya dilakukan untuk menggulingkan sistem yang nyatanya telah banyak mengubah kehidupan warga. Salah satu cara yang digunakan adalah mengekspos isu-isu sensitif dan kekurangan si petahana. Sebuah cara basi yang ternyata masih mempan dipakai di negara berkembang ini.

‘Eh si petahana kasar! Suka ngomong ini itu. Suka pecat-pecat!’ 

‘Si petahana ini jelas-jelas harus dimusnahkan karena bertentangan dengan golongan kita!’

‘They are bastards. They are different from us! They have humiliated us!’

Kalimat-kalimat seperti ini seperti sudah jutaan kali muncul di media-media sosial. Yang paling menyedihkan adalah teman-teman yang dulunya saya kena sebagai open minded scholars dan toleran ternyata berubah drastis setelah isu-isu ini muncul. Dengan alasan satu golongan, maka semua ikut campur. Semua ingin dapat panggung untuk berkomentar.

Hey! Teman-teman, maafkan saya, tapi kalian tidak pernah merasakan banjir berhari-hari, kemacetan Jakarta, dan sistem transportasi yang kacau! Kalian tidak pernah merasakan perubahan positif selama lima tahun belakangan! Jangan seenaknya menilai orang dengan persepsi sempit yang kalian dapat dari segelintir orang.

Maafkan saya jika saya memohon, tolong hentikan mengaitkan urusan ini dengan golongan atau kepercayaan yang kita anut. Semua sama sekali tidak berhubungan. Ada dalang yang bermain di belakang semua ini dan ingin kita semua hancur. Sadarkah kita akan hal ini?

Atau jika ini sulit bagi teman-teman, setidaknya jangan ikut berkomentar soal Pilgub Jakarta, apalagi sampai menilai kualitas para calon dari gambaran media sosial dan gosip di warung kopi. Padahal kalian tidak pernah tinggal lama di Jakarta terutama bagian barat di ujung utara seperti saya.

Saya masih gerah namun tetap berharap yang terbaik untuk Ibukota dan negara ini. Kiranya siapapun yang sempat membaca tulisan singkat saya bisa mengintropeksi diri agar kita bisa kembali ke manusia yang hakiki.

West Jakarta, February 18, 2017

Advertisements

3 thoughts on “Cerita Lima Tahun di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s