The Old and New Concept of ‘Job’

Gelar sarjana bukan hanya sebuah kebanggaan karena telah berhasil menyelesaikan kuliah strata satu selama kurang lebih empat tahun tapi juga sebuah beban baru bagi seorang alumnus karena di sini lah letak titik penentu ke arah selanjutnya: bekerja, melanjutkan kuliah atau melakukan rencana-rencana penting lainnya. Bagi kebanyakan alumnus, termasuk saya pribadi, bekerja adalah pilihan pertama karena usia rata-rata alumnus adalah usia produktif untuk bekerja ditambah lagi dengan faktor kebutuhan finansial yang harus dipenuhi sendiri. Lalu, sebenarnya apa itu bekerja?

Bagi saya, bekerja adalah menghasilkan uang, menikmati apa yang saya kerjakan dan menghasilkan sesuatu yang berharga dari hasil  kerja keras saya tanpa perlu berada di bawah tekanan sebuah perusahaan. Menjadi seorang freelancer dan entrepreneur adalah dua pilihan utama yang mampu menampung aspirasi saya tersebut. Karena saya masih belajar dalam mengelola waktu, tenaga dan dana serta masih awam tentang mengatur strategi serta meminimalisir resiko, sembari menunggu wisuda, saya memilih menjadi seorang freelancer. Saya menyebut ini sebagai bekerja karena saya bisa mendapatkan tiga hal yang saya inginkan dari sebuah pekerjaan, seperti yang telah saya sebutkan di atas.

Tapi bagi orang tua saya dan generasi-generasi yang lebih tua, yang saya lakukan hanyalah sebuah kegiatan iseng yang tidak terlalu penting. Menurut mereka, bekerja bagi seorang sarjana adalah datang ke kantor, memakai seragam perusahaan dan mempunyai bos, lebih mujur jika suatu hari bisa menjadi atasan, tidak peduli jika pendapatan yang diperoleh hanya pas-pasan dan berada dalam ambang UMR. Padahal jika dibandingkan, menjadi seorang freelancer lebih menguntungkan karena bisa memperoleh tiga kali lipat gaji minimal seorang fresh graduate yang menjadi pegawai baru di kota saya tinggal. Pernah suatu kali saya bertanya kenapa bekerja di kantor dengan gaji yang rendah terlihat lebih baik daripada duduk berlama-lama di kamar, memantau laptop dan monitor. Dan jawaban yang saya dapatkan adalah bekerja di kantor sebuah perusahaan, apalagi perusahaan besar lebih bergengsi karena nama perusahaan tersebut akan melekat pada para pegawainya, termasuk saya jika mau bekerja di bawah sebuah perusahaan atau lembaga tersebut. Di sini, menurut pandangan orang tua dan orang kebanyakan, bekerja lebih merupakan sebuah aktivitas yang tidak hanya ditujukan untuk mencari uang tapi juga gengsi dan koneksi.

Ada banyak tuntutan yang ditujukan kepada seorang sarjana. Sarjana yang bekerja di sektor informal, tanpa seragam dan kantor, dianggap ‘tidak berhasil’ dalam memakai gelar sarjananya dibanding sarjana lain yang bekerja di sektor formal. Walaupun, kenyataannya, kebanyakan sarjana yang berwiraswasta dan bekerja secara independen mempunyai gaji yang lebih layak untuk kualitas seorang sarjana daripada mereka yang menjadi pegawai. Ironisnya, “bekerja di rumah” masih dianggap mempunyai konotasi yang sama dengan kata “menganggur”. Karena desakan sosial dan keluarga inilah mungkin suatu hari nanti saya harus menambah pekerjaan sebagai seorang pegawai kantor di samping pekerjaan lama sebagai seorang freelancer.

Jadi, menurut saya, seorang sarjana bisa bekerja atau tidak bekerja tergantung pada bagaimana mereka berusaha memaksimalkan ilmu yang mereka pelajari saat kuliah, entah itu menjadi seorang entrepreneur atau pegawai kantor, menuruti pandangan umum tentang bekerja. Semua berjalan sesuai dengan resiko dan keuntungan masing-masing.

Selamat Bekerja bagi para Fresh Graduates!