Keitai Denwa

Kemarin saya baru saja kehilangan satu-satunya handphone GSM yang saya miliki. Menyesal? Iya, sedikit. Jadi, detik ketika saya menulis paragraf ini, saya tidak punya ponsel yang bisa digunakan, kecuali sebuah ponsel CDMA kuno berwarna merah yang tidak bisa berfungsi dengan baik. Ponsel saya yang hilang kemarin adalah sebuah ponsel murahan yang kualitasnya tidak sebagus produk dari vendor berkelas, bahkan suara dan casingnya pun mulai rusak. Yang agak saya sesali adalah memory card yang berisi aplikasi, foto dan gambar yang menurut saya berkesan ada di dalamnya serta nomor kontak teman-teman saya dari jaman SMA hingga kuliah yang tersimpan di situ. Saya membeli ponsel itu dengan uang sendiri bulan Februari tahun kemarin, jadi wajar jika nggak kena marah sama Mamah karena itu barang saya sendiri bukan barang keluarga. Tapi… hummm… untuk membeli ponsel dengan uang sendiri saat status masih “mahasiswa tanpa kerjaan” adalah sesuatu yang lumayan sulit. Hahah… but it’s okay now.

Seharian setelah tidak memegang ponsel sama sekali, saya merasa ada yang aneh dalam keseharian saya karena seperti masyarakat modern lainnya, sudah menjadi kebiasaan untuk mengecek setiap inbox sms dan telefon yang masuk setiap hari. Namun di sisi lain saya menemukan setitik kebebasan saat saya tidak harus bergantung pada benda mati nan canggih bernama ponsel. Tidak ada yang mendadak mengirim pesan singkat atau SMS hanya sekedar untuk menyuruh saya kesana kemari dan melakukan ini itu. Tidak ada yang mendadak telefon hanya untuk menyuruh saya pergi ke tempat lain mengerjakan ini itu. Saya bebas, tidak ada yang bisa menghubungi saya untuk sementara. Rasanya seperti diijinkan untuk berada dalam sebuah pulau terpencil tanpa seorangpun yang mengetahui keberadaan kita. Sebuah kebebasan yang tidak bisa saya rasakan ketika masih terkungkung dengan dunia komunikasi melalui ponsel, pesan singkat, dan telepon mendadak. Sering sekali saya mematikan ponsel saya untuk sementara waktu demi menghindari “penyiksaan” tersebut. Teringat sebuah lagu dari Radwimps berjudul Keitai Denwa atau Cell Phone dalam Bahasa Inggris yang bercerita tentang bagaimana keinginan seseorang untuk lepas dari ketergantungan dengan ponsel yang membuat segala sesuatu dalam hidupnya berubah.

Jika kejadiaan naas tadi terjadi puluhan tahun yang lalu, maka tidak terlalu bermasalah karena ponsel bukan sebuah bagian dari kebutuhan primer manusia, tapi sayangnya baru kemarin saya kehilangan ponsel dan beberapa orang mengeluh karena tidak bisa menghubungi saya. Fiuhh… jadi secepatnya saya harus mendapatkan sebuah ponsel GSM baru agar bisa meneruskan tradisi “komunikasi” di era modern ini.

Semoga bisa…

4 thoughts on “Keitai Denwa

  1. samaaaaaa.. saya dulu juga kehilangan ponsel, yah walaupun butut tapi hasil beli sendiri. udah gitu didalemnya itu, kontak penting semua dari SMP-SMA-Kuliah.. rasanya pengen makan sushi >:(
    #nah ?

    hahaha, cemungudh aja mbak :P

    • huwahhh makan sushi. saya mah pengen makan bata aja deh. hahahh…. iya, kl ilang di beliin orang lain mah gpp ya dek.. hahah. dah sekarang saya ndak punya ponsel. kwak… masa iya mw kontak orang harus onlen dulu T.T

  2. turut berduka atas hilangnya ponsel tersebut Ren..

    setelah membaca tulisan di atas, saya setuju dengan istilah. seperti terdampar di pulau terpencil. sepertinya memang benar, tanpa alat komunikasi sehari kita merasa seperti rang bebas, orang yang tidak terikat dengan teknologi2 tersebut. orang yang tidak perlu repot2 mengcek SMS, atau pun status. seperti orang yang bebas lah pokoknya. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s