Tumbling on TUMBLR

Ini TUMBLR saya.. :)

Apa yang membuat saya kembali menjadi seorang Tumblr whore?  Sebuah istilah yang sadis, tapi ada benarnya juga sih, karena terhitung mulai akhir tahun 2011 hingga tahun 2012 ini saya kembali aktif di Tumblr. Bukan untuk posting word atau tulisan karena platform WordPress lebih baik dari Tumblr, tapi untuk posting gambar. Yup! Hobi lama saya, browsing, saving dan uploading gambar-gambar unik, aneh dan menyentuh dengan berbagai format. Karena gambar-gambar antik tadi, Tumblogger yang menjadi follower saya bertambah 40an orang lebih, hehe. Jadi tambah semangat maen Tumblr :D Posting gambar di Tumblr memang tergolong mudah, bisa langsung lewat Image sharing sites seperti Flickr (untuk gambar-gambar yang real dan berseni), Weheartit.com (situs ini banyak didominasi user cewek yang rata-rata masih labil :P ), Ffound.com, Favim.com, imgfave.com atau Deviantart (my fave art site ever) atau upload gambar sendiri.

Dulu saya hobi download gambar, upload di Tumblr dan lupa mencantumkan sumbernya. Haha, maklum, masih labil, dan akibatnya banyak pesan-pesan tanpa nama datang ke inbox saya hanya karena masalah URL sumber gambar dan nama pemilik sahnya. Sekarang sih, karena ada direct-share dari situs-situs di atas, tidak perlu ribet lagi copy paste sumber gambarnya.

Dan yang membuat saya betah di Tumblr sekarang adalah, NOTES!!! Hahaha, I love my followers. Bayangkan saja, hanya dengan gambar di bawah ini, dalam waktu seperempat jam, sudah ada hampir dua ribu notes baik yang me-‘Reblog’ maupun me-‘Love’

Gambar lain yang mendapat notes fantastis :D

dan masih banyak lagi karena saya sudah menyimpan hampir 1500 gambar di page saya, silakan cek Tumblr saya, dan mulailah posting dengan Tumblr. Trust me, it’s fun!!

Keitai Denwa

Kemarin saya baru saja kehilangan satu-satunya handphone GSM yang saya miliki. Menyesal? Iya, sedikit. Jadi, detik ketika saya menulis paragraf ini, saya tidak punya ponsel yang bisa digunakan, kecuali sebuah ponsel CDMA kuno berwarna merah yang tidak bisa berfungsi dengan baik. Ponsel saya yang hilang kemarin adalah sebuah ponsel murahan yang kualitasnya tidak sebagus produk dari vendor berkelas, bahkan suara dan casingnya pun mulai rusak. Yang agak saya sesali adalah memory card yang berisi aplikasi, foto dan gambar yang menurut saya berkesan ada di dalamnya serta nomor kontak teman-teman saya dari jaman SMA hingga kuliah yang tersimpan di situ. Saya membeli ponsel itu dengan uang sendiri bulan Februari tahun kemarin, jadi wajar jika nggak kena marah sama Mamah karena itu barang saya sendiri bukan barang keluarga. Tapi… hummm… untuk membeli ponsel dengan uang sendiri saat status masih “mahasiswa tanpa kerjaan” adalah sesuatu yang lumayan sulit. Hahah… but it’s okay now.

Seharian setelah tidak memegang ponsel sama sekali, saya merasa ada yang aneh dalam keseharian saya karena seperti masyarakat modern lainnya, sudah menjadi kebiasaan untuk mengecek setiap inbox sms dan telefon yang masuk setiap hari. Namun di sisi lain saya menemukan setitik kebebasan saat saya tidak harus bergantung pada benda mati nan canggih bernama ponsel. Tidak ada yang mendadak mengirim pesan singkat atau SMS hanya sekedar untuk menyuruh saya kesana kemari dan melakukan ini itu. Tidak ada yang mendadak telefon hanya untuk menyuruh saya pergi ke tempat lain mengerjakan ini itu. Saya bebas, tidak ada yang bisa menghubungi saya untuk sementara. Rasanya seperti diijinkan untuk berada dalam sebuah pulau terpencil tanpa seorangpun yang mengetahui keberadaan kita. Sebuah kebebasan yang tidak bisa saya rasakan ketika masih terkungkung dengan dunia komunikasi melalui ponsel, pesan singkat, dan telepon mendadak. Sering sekali saya mematikan ponsel saya untuk sementara waktu demi menghindari “penyiksaan” tersebut. Teringat sebuah lagu dari Radwimps berjudul Keitai Denwa atau Cell Phone dalam Bahasa Inggris yang bercerita tentang bagaimana keinginan seseorang untuk lepas dari ketergantungan dengan ponsel yang membuat segala sesuatu dalam hidupnya berubah.

Jika kejadiaan naas tadi terjadi puluhan tahun yang lalu, maka tidak terlalu bermasalah karena ponsel bukan sebuah bagian dari kebutuhan primer manusia, tapi sayangnya baru kemarin saya kehilangan ponsel dan beberapa orang mengeluh karena tidak bisa menghubungi saya. Fiuhh… jadi secepatnya saya harus mendapatkan sebuah ponsel GSM baru agar bisa meneruskan tradisi “komunikasi” di era modern ini.

Semoga bisa…

2012: The Simple Resolution

Telat. Haha, ini udah tanggal berapa, baru nulis soal resolusi. Ah, nggak apa-apa lah, daripada nggak ada kerjaan :D *puk puk diri sendiri, lirik sana-sini, kerjaan masih numpuuuuuk -_-*

Yang saya tulis ini bukan resolusi bisnis, karena saya nggak punya bisnis yang berguna. Ada juga bisnis sampingan PT. Insomnia nan Galau *jiahh* bergerak di bidang produksi pikiran-pikiran aneh, kacau dan tidak berujung -__-“ *hash…*. Yang saya tulis juga bukan resolusi pernikahan, karena saya belum mau menikah *hahahh, emang mau nikah sama siapa? Kim Jae Wook?! Pergi aja deh ke kamp militer Korea sono, ikut perang :P * Yang saya tulis ini resolusi kecil-kecilan tentang hidup saya, yang saya posting di blog. Kenapa di posting? Karena fungsi blog buat tempat posting kan? Masa iya buat tempat makan?

Ngawur deh, baru sekali ini nulis sekacau ini *padahal mah, tulisan saya nggak ada yang bener*. Jadi inti dari intro tadi adalah, saya hendak ingin berniat menulis resolusi 2012. Humm.. tahun yang penuh perjuangan kayaknya. Setelah menjadi mahasiswa angkatan tahun 2006 dan baru lulus tahun 2011 *blushing… but it’s a damn fact.* status saya sekarang sudah bisa dikatakan sebagai alumni, ya walaupun wisuda masih Maret nanti tapi saya sudah bebas dari segala kegiatan kampus dan urusan-urusan di dalamnya. Hags! Terbebas dari status mahasiswa itu ada enak dan ada nggaknya. Enak karena nggak diuber-uber pertanyaan “Kapan lulus?” “Skripsi sampai mana?” “Kapan sidang?” “Lo kuliah apa sih cinnn?” *berasa residivis deh*. Enak karena paling nggak, untuk sementara nggak belajar lagi. Enak karena nggak harus ke kampus tiap hari, sumpah sejujurnya, saya bosan dengan suasana kampus saya -_- *bilang  aja udah kelamaan.. :D *

Nggak enaknya, karena sekarang harus mikir serius tentang kerja, membangun karir *padahal saya nggak tau, karir itu apanya kasir… #krik* dan mikir rencana, rencana, dan rencana untuk masa depan diri sendiri. Nggak enaknya juga, karena saya harus siap untuk lepas dari hura-hura dan euforia masa kuliah saat menjadi mahasiwa. Jika dulu saya seorang idealis yang dengan mudah berkata “Masa bodoh dengan kapitalisme dan dunia industri. Gue independen!” sekarang saya harus nyemplung dalam tatanan sosial yang mau nggak mau berada dalam sistem kapitalisme terkonstruksi *cieh, bahasanya edun booook…*. Mau nggak mau, saya harus kerja, cari uang dan in the end… hedonism rules *hahahh, amit-amit*. Jadi ya resolusi saya untuk tahun ini adalah bekerja dan pastinya, keluar dari rumah, keluar dari area Karesidenan Surakarta Hadiningrat  yang ramah.

Yah, rencana saya dari dulu adalah meninggalkan kota ini. Pengen dan butuh karena ada banyak alasan yang tidak bisa dijelaskan di sini. Jadi sebisa mungkin saya berencana ingin mencari pekerjaan di daerah lain. Kalau nggak bisa ya sudah, toh bukan saya yang mengatur hidup dan masa depan saya :D

But somehow, I feel that my next chapter of life is not in this town. Hmm…

Dan resolusi yang terakhir adalah, hehe, masih sama dengan salah satu resolusi yang saya buat tahun lalu. Tidak perlu ditulis, terlalu panjang ntar postingannya :)