Batasan Dewasa.

bayi – anak-anak – remaja – dewasa – tua

Umumnya siklus kehidupan manusia bisa digambarkan seperti itu. Dalam fase  bayi dan anak-anak, manusia tidak bisa hidup sendiri sehingga harus sepenuhnya bergantung pada pertolongan orang tua. Di fase-fase ini juga, manusia diajarkan untuk belajar. Entah itu belajar tentang bagaimana untuk hidup, bagaimana bertahan hidup dan bagaimana menghidupi kehidupan mereka masing-masing. Sementara fase remaja (adolescence) adalah periode paling rawan karena di titik ini, terdapat tahap-tahap pencarian jati diri dengan berbagai cara yang nantinya akan mempengaruhi fase kehidupan selanjutnya: dewasa.

Yang perlu diperhatikan adalah semua fase tadi tidak bisa diukur hanya dengan usia seseorang saja. Oke, usia berlaku untuk menentukan batasan bayi, anak-anak dan remaja. Tapi ketika menentukan bagaimana seseorang tersebut menjalani fase dewasa, tentu saja tidak bisa dinilai hanya dengan usia, bertambahnya berat badan, tinggi badan, perubahan hormon dan ciri-ciri lain yang gampang tertangkap mata. Menjadi dewasa merupakan proses yang panjang dan rumit. Menjadi dewasa tidak sekejap terjadi ketika seseorang membuka mata di pagi hari saat pertama kali memasuki usia dua puluh tahun. Bukan berarti juga meninggalkan atribut-atribut remaja lalu beralih membeli aksesoris, baju, dan semua hal yang ‘normal’ dipakai oleh orang-orang dewasa. Bukan berarti bebas membeli rokok, menonton film porno secara legal dan memiliki KTP, SIM serta paspor. Bukan mengganti selera musik dari hingar-bingar menjadi slow dan mellow, bukan menemukan pasangan hidup, pekerjaan lalu bermimpi merancang pernikahan dan keluarga idaman.

No, kids! Kau tidak cukup dewasa untuk memahami arti dewasa sebenarnya.

Apa batasan dewasa? Simpel saja, sikap. Jika tertanda usia dua puluh enam tahun, memiliki pekerjaan dan bersiap untuk menikah tapi memiliki sikap seperti anak remaja, sulit mengendalikan emosi, tidak pernah menghargai orang lain, egois dan serba ‘sok’, apakah pantas disebut dewasa? Walaupun dengan gampangnya orang-orang seperti itu menyebut anak-anak SMP dan SMA sebagai ‘ababil’, bukankah mereka masih termasuk dalam golongan abg labil yang belum mengerti bagaimana bersikap dewasa? Dewasa berarti lebih bijak dalam menghadapi segala sesuatu dalam hidup. Think twice act wise. Anak belasan tahun pun kadang-kadang lebih bisa bersikap dewasa daripada mereka yang berkepala tiga karena mereka lebih cepat belajar dari kehidupan mereka. Pengendalian sikap, tanggung jawab dan bijaksana adalah penentu seseorang benar-benar dewasa atau belum.

Percuma saja jika seseorang sudah mempunyai suami / istri dan anak tapi sikapnya labil. Jadi bukan hanya menilai penampilan and usia seseorang saja untuk menyebut mereka dewasa.

Saya. Saya sendiri masih dalam proses menjadi dewasa. Dua puluh dua tahun bukan sebuah patokan untuk mereka menyebut saya dewasa, mature atau ‘not a girl not yet a woman’. Meski selera musik saya masih seperti yang dulu, hingar , eksklusif dan random, mirip seperti ababil mungkin, tapi saya tidak akan pernah meninggalkannya hanya demi sebuah istilah ‘dewasa’. Lagian, apa hubungannya selera musik dan menjadi dewasa, coba? Darn it! Rebel dan sarkastik itulah yang membentuk watak saya dan saya akan bangga menjadi dewasa dengan cara saya sendiri. Bukan dengan cara dandanan dan pakaian yang ‘harus’ dipakai perempuan normal seusia saya, atau dengan rencana-rencana muluk untuk menemukan pasangan hidup, menikah dan punya anak. Saya belum sempat dan siap berpikir ke sana. Saya belum dewasa. Memaksa diri dewasa dengan standar umum yang diberikan oleh orang kebanyakan tidak akan pernah membuat kita menjadi dewasa seutuhnya.