Michelle Branch – Everywhere

(For Hira.. :( )

Turn it inside out so I can see
The part of you that’s drifting over me
And when I wake you’re, you’re never there
But when I sleep you’re, you’re everywhere
You’re everywhere

Just tell me how I got this far
Just tell me why you’re here and who you are
‘Cause every time I look
You’re never there
And every time I sleep
You’re always there

‘Cause you’re everywhere to me
And when I close my eyes it’s you I see
You’re everything I know
That makes me believe
I’m not alone
I’m not alone

I recognize the way you make me feel
It’s hard to think that
You might not be real
I sense it now, the water’s getting deep
I try to wash the pain away from me
Away from me

‘Cause you’re everywhere to me
And when I close my eyes it’s you I see
You’re everything I know
That makes me believe
I’m not alone
I’m not alone

I am not alone
Whoa, oh, oooh, oh

And when I touch your hand
It’s then I understand
The beauty that’s within
It’s now that we begin
You always light my way
I hope there never comes a day
No matter where I go
I always feel you so

‘Cause you’re everywhere to me
And when I close my eyes it’s you I see
You’re everything I know
That makes me believe
I’m not alone
‘Cause you’re everywhere to me
And when I catch my breath
It’s you I breathe
You’re everything I know
That makes me believe
I’m not alone

You’re in everyone I see
So tell me
Do you see me?

4 reasons why RADWIMPS is worth to listen to…

Oke. Karena saya belum pernah mereview RADWIMPS, one of the most incredible J-rock band that I’ve ever known, maka postingan kali ini saya dedikasikan untuk Yojiro Noda, Akira Kuwahara dan teman-temannya yang telah membuat saya kecanduan mendengarkan lagu-lagu mereka.

Sekitar setahun (lebih) kemarin, berawal dari Ellegarden, dedengkot melodic punk Jepang, serta sedikit sentuhan Bump of Chicken,  saya mendapat rekomendasi lagu-lagu RADWIMPS. Futarigoto adalah lagu pertama RADWIMPS yang saya dapat, dan wah, ternyata lagu nya bagus…ear catching banget, tipikal lagu dengan vokal yang belum pernah saya dengarkan sebelumnya. Campuran antara rap, style vokal britrock dan funk milik Anthony Kiddies, RHCP (sampai bingung gimana harus mendeskripsikan suara khas si Noda ini) dan semuanya itu di blend dengan gaya permainan gitar Kuwahara yang sangat match dengan tipe suara Noda. Saya sampai yakin, kerja sama dua orang inilah yang membuat RADWIMPS berbeda dengan band-band Jepang kebanyakan. Tapi tanpa dua orang lainnya Yusuke Takeda di posisi basis dan Satoshi Yamaguchi sebagai drummer, RADWIMPS juga tidak bisa sebagus seperti yang saya dengarkan.

Baiklah, berikut ini adalah alasan kenapa RADWIMPS merupakan salah satu band terbaik menurut saya:

  • Funk, bro…

Funk. Jika saya mendengar istilah ini maka yang terlintas di pikiran saya adalah musik-musik sejenis Red Hot Chili Peppers: bass dan vokal nya mengalun cepat, bam bim bum bam bim bum, dan kadang bisa membuat pendengar ingin menggoyangkan kaki. Musik milik RADWIMPS secara umum memang seperti ini. Lagu berjudul Oshakashama, Hikikomori dan Lullaby cukup detail menggambarkan nuansa funk khas RADWIMPS. Kuwahara, gitaris dan Takeda, basis, mendesain tempo dan dinamika lagu sedemikian rupa sehingga bisa mengimbangi vokal Noda yang ajib… keren banget kalau kata saya mah :D , sehingga nyaman didengarkan. Sama rata.

  • Suara unik seperti milik Yojiro Noda, adakah?

Yojiro Noda adalah vokalis utama band ini sekaligus pencipta dan penulis hampir semua lagu milik RADWIMPS. Di beberapa lagu dia juga sempat merangkap sebagai gitaris rhythm terutama beberapa lagu ballad seperti 25, dan Kiseki. Saking enakknya untuk dinyanyikan, jangan harap ketika pertama kali mendengarkan RADWIMPS, terutama lagu-lagu dengan beat funk kental, kita bisa menirukan lirik lagu yang dia nyayikan, karena apa? Karena sama seperti band-band funk lainnya, vokalis akan menyanyi dengan tempo sangat cepat sekali hampir tanpa jeda. Mirip teknik rapping dengan bahasa Jepang. Ribet banget pokoknya, selama saya mendengarkan RADWIMPS, saya hanya bisa mengikuti alunan suara Noda di lagu Futarigoto, By My Side, Order Made, Keitai Denwa (itupun masih tebata-bata :D ) dan beberapa lagu bertempo pelan lainnya. Lagu ganas dengan nuansa funk seperti Oshakashama, sangat sulit untuk diikuti apalagi jika disuruh nyanyi sendiri, mati kutu deh.

  • The different RADWIMPS

Menemukan RADWIMPS di dunia J-rock dan J-pop merupakan sesuatu hal yang menakjubkan. Karena musik mereka berbeda, Jelas-jelas berbeda. Jika area rock mainstream Jepang sedang dibanjiri dengan banyaknya band visual kei, alternative rock dan genre ‘normal’ lainnya maka RADWIMPS hadir mengusung unsur funk yang mendominasi musik mereka. Selain itu lirik yang dibuat bukan sekedar lirik percintaan, masalah remaja, hal-hal sepele tapi juga tentang kehidupan sehari-hari yang mereka rasakan di Jepang, politik dan juga lingkungan. Saya nggak ngerti bahasa Jepang banget sih ya, jadi arti dari lagu-lagu mereka saya dapatkan dari internet.

  • Epic Music Videos

Hal lainnya yang menarik dari RADWIMPS adalah konsep video-video musiknya yang unik dan berbeda. Silakan dicek di Youtube kalau ingin membuktikan review sederhana ini. Keitai Denwa adalah salah satu video musik favorit saya. Sesuai judulnya video ini mengambil tema keitai denwa atau telepon, dengan menggambarkan kehidupan di dalam sebuah telepon dimana seorang anak kecil hidup di dalamnya dan bertugas menjadi ‘operator’ dalam alat tersebut. Video musik lainnya seperti Oshakasama, DADA, dan Order Made menampilkan sisi artistik dan naratif yang sangat memukau dan terkesan pas untuk setiap lagu. Salut buat sutradaranya.

Begitulah pendapat saya tentang RADWIMPS dan alasan kenapa mereka sangat menyenangkan untuk didengar. Biografi, jumlah album serta lagu yang pernah dirilis bisa dicek sendiri di Wikipedia dan Google, banyak banget kalau ditulis di sini soalnya. Hehe…

Regards.

(Catatan) Musik, didengar atau dilihat?

(Terinspirasi dari sebuah judul thread yg sempat di-sticky di sub forum musik, Kaskus.us)

Musik merupakan salah satu hal terbaik yang pernah dimiliki oleh manusia dalam mengungkapkan perasaan dan emosinya. Salah satu hal yang perlu digaris bawahi adalah, korelasi antara pemusik dan musik yang dimainkan telah berubah. Jika dulu musik adalah sesuatu yang dapat mendeskripsikan  isi hati si pemusik (ex: pemain kecapi pada jaman kerajaan Eropa kuno) maka sekarang tampilan si pemusiklah yang lebih unggul dibandingkan dengan musik yang dibawakannya. Artinya begini, penampilan dari pemusiklah yang menentukan bagaimana sebuah musik dapat dijual atau tidak.  Mungkin juga karena pengaruh media visual atau term populer “video kill the radio stars” sehingga ‘musik’ yang dilihat mata itu lebih layak diterima dari musik sebenarnya yang didengar telinga. Lihat saja bagaimana boomingnya para pemusik tivi padahal musik yang dibawakannya jelas-jelas standar, pas-pasan dan tidak berenergi. Tidak bernergi di sini maksudnya, musik mereka berasal dari ciptaan orang lain untuk tujuan komersil. Bisa jadi tema cinta dan patah hati sengaja diusung karena hal-hal itu sangat mudah diterima pendengar yang rata-rata anak muda, ditambah lagi dengan tampilan luar si pemusik yang sengaja dipermak, diekspos sehingga terkesan ‘pas’ dengan lagu yang mereka bawakan.

Dua  faktor inilah yang menjadi tombak penjualan musik-musik saat ini dan keduanya harus mempunyai keterkaitan yang erat. Maka bukan sesuatu yang aneh jika si pemusik dengan tema cinta namun tampilan luar yang tidak menjamin, akan lebih sedikit terjual dibanding dengan pemusik yang dapat mengkombinasikan kedua faktor dengan baik. Satu faktor tambahan, catchy. Semakin catchy lagu, maka akan semakin mudah untuk didengar dan semakin mudah terjual. Para pendengar kadang malas mencerna musik sejenis progressive rock, old school hardcore, post rock, death metal dan musik non populer lainnya karena terlalu berat dan asing di telinga (mungkin). Maka, genre paling populer: pop, menjadi senjata aman untuk menciptakan musik-musik catchy yang sangat mudah diterima telinga dan dicerna otak. Tema populer+penampilan luar yang ‘wow’+lagu catchy adalah ramuan yang pas yang banyak dilirik bisnis permusikan saat ini. Nggak cuma di Indonesia, musik-musik luar juga memakai bumbu yan sama. Jika sudah merasuk ke area fans, fanbase-fanbase bermunculan, dan anehnya bukan untuk mendukung musik yang dibawakan, malah mengurusi kehidupan si pemusik sehari-hari. Ironis.

Hummm… saya sendiri memilih musik berdasarkan sejauh mana musik itu dapat mengekspresikan perasaan pendengar seperti saya dengan kualitas yang benar-benar saya harapkan. Musik itu sesuatu yang subyektif kalau menurut saya. Jadi jika pertama kali saya mendengarkan sebuah musik baru, intro musik pun harus bisa mengungkapkan perasaan dan harapan saya. Saya termasuk dalam golongan pendengar yang tidak peduli dengan penampilan si pemusik (Ya, nggak munafik juga, sebagai perempuan saya juga melihat penampilan, kadang-kadang vokalis cute, drummer cute, gitaris cute, bassis cute hampir merontokan idealisme saya) Apapun dia, darimanapun dia, jika musiknya benar-benar bagus dan cocok dengan saya, maka saya akan selalu menaruh kenangan tentang pemusik itu di dalam ‘kotak musik’ saya.  Saya juga termasuk penikmat musik yang terkena sindrom ‘anti-mainstream’ (Nggak tau ya, mungkin karena bawaan masa lalu dengan teman-teman, hehe) hingga banyak dari musik saya yang tidak pernah didengar dan tidak disukai oleh orang lain a.k.a underrated. Komentar-komentar seperti “lo denger apa sh?”,“musik apaan tuh? Bagusan juga ini, itu”,“ah, selera lo gw gak ngeh, payah”,”ini yang lagi di top20, top40, billboard 100, musik lo gak masuk tuh” sering saya dengar dari teman-teman sekitar. Tapi masa bodoh, selama musik saya bisa membuat saya merasa nyaman, whatever people say, I have my own playlist.

Randy and His Hairstyle, A True Story

Intro:

Kemarin petang saya dan seisi rumah saya dibuat heboh dengan kedatangan dua sosok ‘makhluk’ yang sangat unpredictable. Saya dan adik perempuan saya sampai melongo melihatnya. Jadi gini, tiba-tiba di depan rumah berhenti sebuah motor empat tak yang suaranya halus banget, kirain teman perempuan saya atau temen adik saya datang berkunjung ke rumah. Spontan kami yang perempuan langsung melongok keluar pintu. Jederrr!! Saya yang pertama kali keluar sempat kaget karena ternyata bukan perempuan yang turun dari motor tapi dua orang anak remaja laki-laki sebaya adik perempuan saya (19tahun), dengan penampilan yang ohmaigod… *speechless* gaya dandanan yang masih bertahan di tengah gempuran boyband pribumi yang membuat sakit kepala kambuh: emo fashioncore… rambut gondrong lurus, poni panjang menjuntai, tato di seluruh lengan, kaos hitam dengan typograf nama band dan aksesoris pelengkap. Saya dalam hati sempat menerka-nerka, apakah itu teman saya? Nggak mungkin, teman-teman saya yang masih berdandan seperti itu terakhir kali muncul tahun 2008, habis itu trend mereka berubah (jiahhh). Mungkin teman adik perempuan saya, jadi saya masuk ke dalam dan adik saya yang menyambut mereka. Baru selangkah menuju ke kamar, adik saya berseru “Oh Randy ya? Mamah baru keluar

Tunggu… Randy?? Hah?? What…?!

Setelah itu saya, adik laki-laki saya yang berada di ruang tengah dan adik perempuan saya hampir…, gubrak!! Kaget.

Flashback 1:

Randy adalah anak tetangga saya yang dua tahun lalu pindah dari lingkungan kami karena faktor keluarga. Waktu itu Randy adalah seorang remaja SMA biasa, culun malah, yang sangat dibanggakan ibunya karena sifatnya yang penurut, tidak seperti saya yang pemberontak, hehe. Ibunya adalah tetangga terdekat Ibu saya selama bertahun-tahun jadi saya sendiri tahu perkembangan dalam keluarga mereka. Keluarga mereka termasuk dalam keluarga broken home lantaran sang ayah pergi meninggalkan mereka karena perbedaan keyakinan. Dengan empat anak seperti itu, sang Ibu tidak termasuk dalam golongan yang mau bekerja giat untuk membiayai anak-anaknya hingga anaknya terbengkelai. Randy yang masih berada dalam masa transisi, mungkin sulit menentukan keyakinan mana yang dia ikuti karena kedua orang tuanya terkesan tidak pernah berkompromi tentang hal vital ini. Tentu saja, hal-hal negatif berdampak pada anak-anak mereka. Sang kakak sulung putus kuliah lalu pergi dari rumah sementara adik-adiknya sama sekali tak terurus. Kemudian dua tahun kemarin keluarga itu memutuskan pidah ke salah satu kota di Jawa Barat. Sebagian barang-barang mereka bahkan dititipkan ke rumah saya karena alasan ekonomi. Setelah keluarga tersebut pindah, sempat terdengar kabar jika Randy masih berada di daerah saya. Sempat sih saya bertanya-tanya, bagaimana cara anak itu bertahan hidup sendiri karena dia masih sekolah dan usianya masih terlalu  dini untuk bekerja.

Flashback 2:

Dua hari sebelum kemarin sore, ada sebuah telefon untuk Ibu saya. Hohoo, ternyata dari Ibu Randy. Tumben nih, telefon. Setelah berbasa-basi cukup lama, ternyata Ibu Randy meminta bantuan kepada Ibu saya agar Randy bisa menyusul pulang ke kota Ibunya karena anak itu sudah bertahun-tahun tidak pulang, saya bisa mendengar pembicaraan mereka karena saya berada di TKP saat Ibu saya menerima telefon. Dan setelah ditunggu, dua hari kemudian Randy datang ke rumah dengan penampilan yang wahhh -__-“ beserta seorang temannya dengan tipikal sama. Karena Ibu saya tidak berada di rumah dan sedang berada di tempat lain, maka adik saya menyuruh Randy dan temannya tadi untuk menyusul Ibu saya di tempat itu. Kaget juga sih melihat bagaimana remaja sealim dan setenang itu berubah drastis menjadi remaja dengan penampilan yang sering saya protes di blog. Yang lucu lagi, setelah Ibu saya pulang ke rumah dia bercerita kepada saya,

“Tadi ada Randy nyusul”, kata Ibu saya

“Randy kok jadi kayak gitu ya sekarang?” balas saya

“Iya, tadi Ibu sempet komentar ‘Ndi, kok kamu jadi PEREMPUAN ya sekarang?’” kata Ibu saya lagi, tanpa beban -_-

“Hahh??!”

Ibu saya terkenal sebagai orang yang blak-blakan jika berbicara, dan komentar tadi membuat saya tertawa karena saya tahu Ibu saya bukan pengamat fashion anak muda, mungkin saja dia merasa aneh melihat remaja dengan rambut gondrong dan dandanan seperti itu, apalagi Randy mempunyai ciri-ciri fisik mendekati remaja perempuan :D

Penutup:

Hmmm, melihat Randy sekarang, saya merasa sedikit bersalah karena sering menyama ratakan anak-anak mall emo dengan dandanan fashioncore sebagai remaja labil yang cuma bisa ikut-ikutan arus, pamer dan berhura-hura (banyak sih di komplek saya kalau mau nyensus :) ). Randy, dengan latar belakang keluarga broken home, bertahan di kota saya seorang diri, menurut saya bukan sekedar anak muda yang terbawa arus. Tanpa sebuah dasar dari keluarga yang membantu untuk menemukan identitas dirinya, Randy mungkin hanya bisa berbaur dengan sebuah kelompok yang kebanyakan didominasi oleh anak-anak muda dengan dandanan seperti itu, salah satunya mungkin yang datang bersamanya kemarin, mungkin di situ dia menemukan sebuah keluarga baru yang membantunya bertahan.

Mungkin nggak semua anak-anak fashioncore adalah ababil yang menghabiskan waktunya untuk berdandan, memutar MP3 band-band mall emo di kamar, berpose-pose aneh di depan kamera dan melakukan hal-hal tidak berguna lainnya.

Mungkin ada yang seperti Randy, bekerja keras untuk bertahan hidup, merombak penampilan dan tingkah lakunya karena merasa telah menemukan keluarga yang bisa menerimanya, yang bisa melindunginya.

(Ditulis setelah Randy mampir sebentar ke rumah saya, berpamitan pada Ibu pagi ini. Cerita dari mulutnya sendiri membuat saya tercengang dan…. sedih :( )