Intro:
Kemarin petang saya dan seisi rumah saya dibuat heboh dengan kedatangan dua sosok ‘makhluk’ yang sangat unpredictable. Saya dan adik perempuan saya sampai melongo melihatnya. Jadi gini, tiba-tiba di depan rumah berhenti sebuah motor empat tak yang suaranya halus banget, kirain teman perempuan saya atau temen adik saya datang berkunjung ke rumah. Spontan kami yang perempuan langsung melongok keluar pintu. Jederrr!! Saya yang pertama kali keluar sempat kaget karena ternyata bukan perempuan yang turun dari motor tapi dua orang anak remaja laki-laki sebaya adik perempuan saya (19tahun), dengan penampilan yang ohmaigod… *speechless* gaya dandanan yang masih bertahan di tengah gempuran boyband pribumi yang membuat sakit kepala kambuh: emo fashioncore… rambut gondrong lurus, poni panjang menjuntai, tato di seluruh lengan, kaos hitam dengan typograf nama band dan aksesoris pelengkap. Saya dalam hati sempat menerka-nerka, apakah itu teman saya? Nggak mungkin, teman-teman saya yang masih berdandan seperti itu terakhir kali muncul tahun 2008, habis itu trend mereka berubah (jiahhh). Mungkin teman adik perempuan saya, jadi saya masuk ke dalam dan adik saya yang menyambut mereka. Baru selangkah menuju ke kamar, adik saya berseru “Oh Randy ya? Mamah baru keluar”
Tunggu… Randy?? Hah?? What…?!
Setelah itu saya, adik laki-laki saya yang berada di ruang tengah dan adik perempuan saya hampir…, gubrak!! Kaget.
Flashback 1:
Randy adalah anak tetangga saya yang dua tahun lalu pindah dari lingkungan kami karena faktor keluarga. Waktu itu Randy adalah seorang remaja SMA biasa, culun malah, yang sangat dibanggakan ibunya karena sifatnya yang penurut, tidak seperti saya yang pemberontak, hehe. Ibunya adalah tetangga terdekat Ibu saya selama bertahun-tahun jadi saya sendiri tahu perkembangan dalam keluarga mereka. Keluarga mereka termasuk dalam keluarga broken home lantaran sang ayah pergi meninggalkan mereka karena perbedaan keyakinan. Dengan empat anak seperti itu, sang Ibu tidak termasuk dalam golongan yang mau bekerja giat untuk membiayai anak-anaknya hingga anaknya terbengkelai. Randy yang masih berada dalam masa transisi, mungkin sulit menentukan keyakinan mana yang dia ikuti karena kedua orang tuanya terkesan tidak pernah berkompromi tentang hal vital ini. Tentu saja, hal-hal negatif berdampak pada anak-anak mereka. Sang kakak sulung putus kuliah lalu pergi dari rumah sementara adik-adiknya sama sekali tak terurus. Kemudian dua tahun kemarin keluarga itu memutuskan pidah ke salah satu kota di Jawa Barat. Sebagian barang-barang mereka bahkan dititipkan ke rumah saya karena alasan ekonomi. Setelah keluarga tersebut pindah, sempat terdengar kabar jika Randy masih berada di daerah saya. Sempat sih saya bertanya-tanya, bagaimana cara anak itu bertahan hidup sendiri karena dia masih sekolah dan usianya masih terlalu dini untuk bekerja.

Flashback 2:
Dua hari sebelum kemarin sore, ada sebuah telefon untuk Ibu saya. Hohoo, ternyata dari Ibu Randy. Tumben nih, telefon. Setelah berbasa-basi cukup lama, ternyata Ibu Randy meminta bantuan kepada Ibu saya agar Randy bisa menyusul pulang ke kota Ibunya karena anak itu sudah bertahun-tahun tidak pulang, saya bisa mendengar pembicaraan mereka karena saya berada di TKP saat Ibu saya menerima telefon. Dan setelah ditunggu, dua hari kemudian Randy datang ke rumah dengan penampilan yang wahhh -__-“ beserta seorang temannya dengan tipikal sama. Karena Ibu saya tidak berada di rumah dan sedang berada di tempat lain, maka adik saya menyuruh Randy dan temannya tadi untuk menyusul Ibu saya di tempat itu. Kaget juga sih melihat bagaimana remaja sealim dan setenang itu berubah drastis menjadi remaja dengan penampilan yang sering saya protes di blog. Yang lucu lagi, setelah Ibu saya pulang ke rumah dia bercerita kepada saya,
“Tadi ada Randy nyusul”, kata Ibu saya
“Randy kok jadi kayak gitu ya sekarang?” balas saya
“Iya, tadi Ibu sempet komentar ‘Ndi, kok kamu jadi PEREMPUAN ya sekarang?’” kata Ibu saya lagi, tanpa beban -_-
“Hahh??!”
Ibu saya terkenal sebagai orang yang blak-blakan jika berbicara, dan komentar tadi membuat saya tertawa karena saya tahu Ibu saya bukan pengamat fashion anak muda, mungkin saja dia merasa aneh melihat remaja dengan rambut gondrong dan dandanan seperti itu, apalagi Randy mempunyai ciri-ciri fisik mendekati remaja perempuan
Penutup:
Hmmm, melihat Randy sekarang, saya merasa sedikit bersalah karena sering menyama ratakan anak-anak mall emo dengan dandanan fashioncore sebagai remaja labil yang cuma bisa ikut-ikutan arus, pamer dan berhura-hura (banyak sih di komplek saya kalau mau nyensus
). Randy, dengan latar belakang keluarga broken home, bertahan di kota saya seorang diri, menurut saya bukan sekedar anak muda yang terbawa arus. Tanpa sebuah dasar dari keluarga yang membantu untuk menemukan identitas dirinya, Randy mungkin hanya bisa berbaur dengan sebuah kelompok yang kebanyakan didominasi oleh anak-anak muda dengan dandanan seperti itu, salah satunya mungkin yang datang bersamanya kemarin, mungkin di situ dia menemukan sebuah keluarga baru yang membantunya bertahan.
Mungkin nggak semua anak-anak fashioncore adalah ababil yang menghabiskan waktunya untuk berdandan, memutar MP3 band-band mall emo di kamar, berpose-pose aneh di depan kamera dan melakukan hal-hal tidak berguna lainnya.
Mungkin ada yang seperti Randy, bekerja keras untuk bertahan hidup, merombak penampilan dan tingkah lakunya karena merasa telah menemukan keluarga yang bisa menerimanya, yang bisa melindunginya.
(Ditulis setelah Randy mampir sebentar ke rumah saya, berpamitan pada Ibu pagi ini. Cerita dari mulutnya sendiri membuat saya tercengang dan…. sedih
)